Suami Tidak Mau Berhubungan Badan

Pernikahan & Keluarga, 27 Juni 2022

Pertanyaan:

Hai, saya eva dan sdh menikah 11 tahun dan blm punya anak. Dari pernikahan tahun ke 9 saya mulai merasakah suami saya tidak mau menyentuh saya lagi. Setiap kali saya mengajak ada saja alasannya. Saya masih mencoba mengerti mungkin karena tekanan di kantor plus pandemik juga. Dia mulai pindah ke kamar sebelah dgn alasan sakit punggungnya (krn kasur kami tidak bagus lagi) lalu baru beberapa bukan kami ganti TV dan dia pun balik ke kamar kami tapi tetap menolak.

Saya senang sekali ketika kita liburan krn saya pikir akan membuat kami dekat kembali tapi ternyata tidak juga.

saya bisa memaklumi jika alasannya karena sakit atau pekerjaan yg membuat dia tidak tertarik. Bahkan ada satu waktu (1 thn 6 bulan) dia tetap menolak. 
alasan terakhr yg dia berikan adalah males karena saya selalu lama (ke kamar mandi dulu bersih bersih, plus krn saya juga keputihan). 

alasan ini yg membuat saya sakit hati dan sdh nangis 3 hari ini blm mau membahas ini sama dia. Bisakah saya menceraikannya krn saya tidak mau menghabiskan sisa umur saya dgn org yg tidak tertarik sama saya.

Terima kasih sebelumnya



-- Eva (Jakarta Timur)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Salah satu kewajiban suami adalah memberikan nafkah batin kepada isterinya. Jika dia tidak melakukan kewajibannya berarti dia telah berlaku nusyuz. Yaitu suami yang tidak melakukan kewajibannya dan melakukan kedhaliman kepada isterinya.

Perilaku tidak berhubungan badan dengan isteri dalam jangka yang panjang tentu bukan perkara biasa bagi laki-laki. Pasti ada sebab dibalik sikapnya itu.

Langkah yang bisa anda lakukan adalah mengajaknya berdiskusi mengenai alasan dan sebab keengganannya berhubungan badan dengan anda. Apakah yang menjadi kendala dia untuk berhubungan? Apakah alasan-alasan yang dia sampaikan selama ini adalah sebab yang paling inti ataukah hanya sebab sampingan saja? Adakah sebab yang lebih besar yang belum pernah terungkap?.

Jika telah dilakukan diskusi dan musyawarah ternyata tidak mendapatkan solusi. Maka pintu gugatan cerai bisa anda masuki. Karena jika keluarga ini diteruskan bisa mendholim diri sendiri dan atau orang lain.

Kisah istri Tsabit bin Qois bisa menjadi acuan untuk mengajukan gugatan cerai, dimana dia mengajukan gugatan cerai kepada suaminya bukan karena akhlak suaminya yang tidak baik dan kesalehannya yang bermasalah, tapi penyebabnya  adalah, dia tidak mampu dan tidak siap melayani suaminya yaitu Tsabit bin Qois karena kekurangan fisik yang ada pada suaminya itu. Maka hal itu diadukan kepada Rasulullah saw seperti hadits berikut:

جَاءَتْ امرَأَةُ ثَابِت بْنِ قَيْس بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّه مَاأَنقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِيْنٍ وَلاَ خُلُقِ إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُواللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيقََتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا “

Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata ; “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Ia menjawab, “Ya”, maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya” [HR Al-Bukhari]

Jika istri Tsabit bin Qois diberikan hak menggugat cerai/khulu’ oleh Rasulullah, bukan karena adanya kemaksiatan yang dilakukan oleh suaminya, tapi karena ketakutan dan kekhawatiranya bermaksiat kepada suaminya. Maka anda lebih berhak untuk mengajukan gugatan cerai karena suami melakukan kedhaliman dengan tidak melayani nafkah batin kepada anda.

Anda sebagai isteri tidak mendapatkan hak, dan suami anda tidak mau melakukan kewajiban. Jika keluarga ini diteruskan dikhawarkan akan terjadi kedholiman dan kemaksiatan, karena itu jika sudah tidak ada solusi lagi. Maka gugatan cerai adalah solusinya. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc