Rumah Warisan Atau Bukan?

Waris, 16 Juli 2022

Pertanyaan:

Assalamualaykum, Ustadz.

Kami 5 bersaudara laki laki semua, dan saya anak terakhir. Kami semua tinggal di rumah orang tua kami yang cukup besar dan luas. rumah tersebut atas nama ayah kami. saat ayah kami sakit keras, rumah tersebut dibalik nama ke kakak saya yang pertama atas permintaan ayah kami. saya mengira itu hanya untuk mempermudah administrasi saja. tidak lama setelah itu ayah kami meninggal dunia. kami masih tinggal bersama di rumah tersebut bersama ibu kami. beberapa tahun kemudian ibu kami juga meninggal dunia. tidak lama setelah itu kami berlima berkumpul untuk membicarakan tentang warisan rumah tempat kami tinggal bersama. ternyata kakak pertama mengaku rumah tersebut bukan termasuk warisan karena ayah kami sudah menghibahkan secara lisan kepadanya, dan sebagai bukti yaitu sertifikat SHM rumah ayah kami yang sudah atas nama kakak pertama. kami adik adiknya kaget karena baru tahu sudah dihibahkan ke kakak pertama kami. padahal selama ini kami bersama-sama ikut urun memberi tenaga dan biaya untuk merawat rumah tersebut karena merasa masih rumah bersama, ternyata rumah yang kami rawat milik kakak pertama kami.

tidak lama setelah itu kami adik adiknya diusir dari rumah itu karena ternyata kakak pertama kami sudah menjualnya, namun kami boleh mengambil barang/perabot peninggalan orang tua kami. Hasil penjualan rumah 5 milyar dan kami adik adiknya tidak diberi bagian.

Menurut hukum Islam, apakah benar kakak pertama kami adalah satu-satunya yang berhak atas rumah tersebut? 

Mohon penjelasannya Ustadz. Terima kasih.



-- Doni (Surabaya)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Hibah harus memenuhi apa yang diatur dalam Pasal 1666 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), bahwa hibah merupakan pemberian oleh seseorang kepada orang lainnya secara cuma-cuma dan tidak dapat ditarik kembali, atas barang-barang bergerak (dengan akta Notaris) maupun barang tidak bergerak (dengan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah – “PPAT”) pada saat pemberi hibah masih hidup.

Hibah merupakan kehendak bebas si pemilik harta untuk menghibahkan kepada siapa saja yang ia kehendaki. Jadi, pemberi hibah bertindak secara aktif menyerahkan kepemilikan hartanya kepada penerima hibah.

Namun kebebasan selalu dibatasi dengan hak pihak lain. Di dalam harta pemberi hibah, terdapat hak bagian mutlak (legitieme portie) anak sebagai ahli warisnya dan hak ini dilindungi undang-undang. Dalam hukum kewarisan Islam, pemberian hibah untuk orang lain juga dibatasi yaitu yaitu harus adil. Jadi, jika memang hibah melanggar hak anak, maka anak dapat menggugat pemberian hibah. Namun jika anak tidak mempermasalahkan, maka hibah tetap bisa dilaksanakan.

Untuk mencegah terjadinya tuntutan di kemudian hari, dalam praktik selalu disyaratkan adalah Surat Persetujuan dari anak (-anak) kandung Pemberi Hibah. Dengan demikian, pemberian hibah harus memperhatikan persetujuan dari para ahli waris dan jangan melanggar hak mutlak mereka. Hak mutlak adalah bagian warisan yang telah di tetapkan oleh undang-undang untuk masing-masing ahli waris (lihat Pasal 913 BW). 

Ketidaksetujuan anak bisa jadi karena ada kekhawatiran berkurangnya harta warisan yang akan mereka dapatkan atau bisa jadi karena anak-anak tidak senang kepada penerima hibah, segala hal bisa saja menjadi alasan pembenar.

Dalam hal kebebasan selalu dibatasi dengan hak pihak lain, diakomodasi dengan baik oleh undang-undang. Undang-undang tetap menghormati hak pemilik harta untuk berbagi, tanpa merugikan hak para ahli waris.
 
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka mestinya klaim kakak anda dengan hibah tersebut tidak berlaku, kalau dia tetap bersikukuh dengan bukti telah menjualnya karena rumah atas namanya, maka berarti ia makan harta dengan cara yang tidak dibenarkan dalam pandangan agama.
 
Demikian, semoga Allah berkenan untk memberikan kemjdfahan, taufiq dan ridho-Nya
 
Wallahu a'lam bishshawaab
 
Wassalaamu 'alaikum wrwb.


-- Agung Cahyadi, MA