Ragu Ragu Lafaz Kinayah

Pernikahan & Keluarga, 1 Agustus 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustaz.

kebelakangan ini saya sering bertengkar sama isteri. Sebab tidak mahu asyik bertengkar saya menyuruh isteri balik ke kampung agar kami dapat meredakan hati dan perasaan masing masing.

ketika saya mahu mengatakan, "kau balik la ke kampung mu", tiba tiba ada lintasan hati mengatakan cerai dan selepas itu saya cepat cepat berkata semula dalam hati bukan niat mahu cerai. 

Saya ragu dan was was apakah lafaz kinayah itu telah menyebabkan jatuh talak. Saya bingung ustaz adakah yang datang itu memang niat saya atau lintasan hati syaitan. Sedangkan saya tidak berazam yang kuat untuk menceraikan isteri saya. Saya berkata menyuruhnya balik ke rumah ibunya hanya niat semata mata agar kami dapat menenangkan hati kami dan dapat berfikir apa yang terbaik untuk perkahwinan kami.

 

Untuk pengetahuan ustaz saya memang selalu menderita was was terutama dalam masalah mandi hadas besar dan persoalan talak. Setiap kali mandi hadas pasti akan ada bisikan mengatakan ada bahagian anggota tubuh saya yang tidak terkena air dan Saya juga pernah tawaf di kaabah sebanyak 14 kali pusingan disebabkan was was.

 

bantu saya ustaz saya sangat risau jika berlaku.  Saya sangat sayangkan isteri saya .



-- Sham (Malaysia)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Kalimat yang diucapkan suami kepada isterinya "kau balik la ke kampung mu" saat terjadi perselisihan. Adalah kalimat kinayah atau kalimat tidak langsung, yang bisa berarti talak dan bisa pula tidak. Yang membedakannya adalah niat yang mengucapkannya. Jika dia berniat mentalak isterinya dengan kalimat itu,maka jatuhlah talak. jika tidak ada niat mentalak maka tidak jatuh talak.

Dengan demikian, terkait dengan ucapan anda diatas, maka dapat kami simpulkan tidak terjadi talak. Ucapan anda kepada isteri "kau balik la ke kampung mu" tidak menyebabkan jatuhnya talak, karena anda tidak berniat untuk mentalaknya. Adapun setelah itu ada lintasan pikiran atau was-was. Maka was-was itu tidak mengubah maksud kalimat yang anda sampaikan. Lintasan pikiran atau was-was itu muncul setelah anda mengucapkan kalimat tersebut. Lintasan pikiran yang muncul setelah melakukan sesuatu itu bukan niat, karena niat adanya diawal, sebelum perbuatan atau sebelum ucapan.

Terkait was-was yang anda derita selama ini. Bisa kami sarankan untuk mengabikannya saja dan tidak memikirkannya. Sebenarnya anda juga menyadari bahwa lintasan pikiran itu hanyalah was-was saja. Bukan sesuatu yang sesungguhnya.

Mereka yang menderita was-was seringkali tidak bisa mengabaikan was-was. Tapi justeru difikirkan dan diperturutkan was-was itu. Sehingga semakin pusing memikirkannya dan semakin menyibukkan pikiran. Cobalah terus belajar mengabaikannya dan ikutlah jalan akal sehat anda. wallahu a’lam bshowab. (as).



-- Amin Syukroni, Lc