Kebingungan Tentang Hubungan Saudara

Pernikahan & Keluarga, 3 Agustus 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Mohon izin bertanya ustadz dan ustadzah 

Singkat cerita ayah saya sudah mempunyai seorang anak dengan perempuan lain diluar pernikahan. Apakah anak tersebut dapat dikatakan sebagai saudara kandung saya ?

Dan apakah ayah saya mempunyai kewajiban untuk menafkahi anak tersebut? 

Sedangkan yang saya tahu, anak itu ikut nasab ibunya.

Terimakasih sebelumnya ustadz dan ustadzah 🙏

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

 

 

 

 

 

 



-- Dd (Palembang )

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Nasab anak yang lahir di luar perkawinan atau anak zina ke ibunya. Rasulullah saw bersabda:


قال النبي صلى الله عليه وسلم في ولد الزنا " لأهل أمه من كانوا" (رواه أبو داود)

Nabi saw bersabda tentang anak hasil zina: “Bagi keluarga ibunya ...” (HR. Abu Dawud)

Anak yang lahir dari akibat perkawinan yang sah disebut anak sah,baik yang seayah,seibu atau yang seayah dan seibu . Saudara kandung adalah saudara seayah dan seibu.

Terkait pertanyaan yang anda sampaikan,dapat kami berikan pandangan,bahwa anak yang terlahir dari hasil perzinahan ayah anda bukan saudara kandung anda. Dia bukan anak sah ayah anda. Ayah anda tidak berkewajiban menafkahi anak hasil perzinahannya. Anak hasil perzinahan bukan anak sah laki-laki yang menzinahi ibunya. Rasulullah sw bersabda:


عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال: قام رجل فقال: يا رسول الله، إن فلانًا ابني، عَاهَرْتُ بأمه في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا دعوة في الإسلام، ذهب أمر الجاهلية، الولد للفراش، وللعاهر الحجر (رواه أبو داود)

“Dari ‘Amr ibn Syu’aib ra dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: seseorang berkata: Ya rasulallah, sesungguhnya si fulan itu anak saya, saya menzinai ibunya ketika masih masa jahiliyyah, rasulullah saw pun bersabda: “tidak ada pengakuan anak dalam Islam, telah lewat urusan di masa jahiliyyah. Anak itu adalah bagi pemilik kasur/suami dari perempuan yang melahirkan (firasy) dan bagi pezina adalah batu (dihukum)” (HR. Abu Dawud).

Demikian yang bisa disampaikan. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc