Was Was Mengenai Hukum Penghasilan Usaha

Fiqih Muamalah, 24 Agustus 2022

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz tolong bantu saya, saat ini ada perkara yang membuat saya terus membuat saya memikirkannya.

Dulu, ketika saya SMK (2019) saya pernah PKL di percetakan sebagai desainer dan finishing selama 3 bulan. Dari situ, saya tahu bahwa percetakan tempat saya PKL ini menggunakan software bajakan dan tidak memperhatikan hak cipta dari gambar-gambar yang diambilnya untuk kebutuhan usaha desainnya.

Pada tahun 2020, ayah saya membuka usaha kontrakan dan jual ikan. Kala itu saya disuruh untuk membuat spanduk dan mencetaknya, kemudian saya cetaklah di percetakan tempat saya PKL dulu.

Saya pikir itu tidak apa apa. Namun, setelah mengetahui bahwa mencetak di percetakan itu tidak diperbolehkan (karena saya sendiri juga sudah tahu cara kerjanya percetakan itu) dari konsultasi saya disini sebelumnya. Saya jadi lebih tidak tenang karena terus memikirkannya, masih ada yang mengganjal, dan akhirnya saya mengajukan konsultasi lagi kepada Ustadz.

Jadi, yang ingin saya tanyakan kepada Ustadz adalah :

1. Apakah hasil penghasilan dari usaha ayah saya ikut haram, karena saya mencetak spanduknya di percetakan yang telah saya ceritakan diatas?

2. Jika penghasilan dari usaha ayah saya haram, bagaimana cara untuk menyucikan hartanya? Apalagi yang sudah dipakai dan dimanfaatkan, misalnya untuk kuliah, bayar listrik dan hal lainnya

Tolong pencerahannya ustadz, karena saya terus memikirkan hal tersebut sehingga menambah beban pikiran saya. Tolong bantu saya ustadz. Tolong sekali..

Sekian, terima kasih

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.



-- Brama Al Jabbaar (Kab. Lebak)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Penggunaan software bajakan dalam islam hukumnya terlarang dan haram, Alquran pun mengisyaratkan agar seseorang tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain. Misalnya dalam surat As Syu'ara ayat 183:

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ.

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Juga dalam surat Al Baqarah ayat 279 yang berbunyi:

لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ .

“..kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya

Dari dua ayat tersebut, dapat dipahami bahwa penggunaan perangkat lunak bajakan dalam islam tidak dapat dibenarkan. Sebab dapat merugikan perusahaan pembuat perangkat lunak. Maka, seseorang yang ingin memanfaatkan perangkat lunak hasil karya orang lain haruslah menjunjung tinggi hak-hak orang tersebut. Dengan mendapatkan perangkat lunak yang diinginkan melalui cara-cara yang ilegal. Baik secara hukum ataupun berdasarkan norma agama.

Berdasarkan uraian mengenai larangan pembajakan perangkat lunak di atas, lantas tentu muncul pertanyaan bagaimana hukum uang yang didapatkan dari pekerjaan yang menggunakan perangkat lunak bajakan? Dalam kasus tersebut. ada pandangan yang membedakan hukumnya menjadi dua

Pertama, orang yang mendapatkan keuntungan murni dari pembajakan, yakni ia membajak suatu perangkat lunak lalu mengomersialisasikannya. Maka hasil penjualan perangkat lunak bajakan tersebut adalah haram. Hal tersebut merupakan hasil dari analogi atas hadits tentang jual beli barang haram:

            إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَنَازِيرِ وَبَيْعَ الْمَيْتَةِ وَبَيْعَ الْخَمْرِ وَبَيْعَ الْأَصْنَامِ.

“Allah Azza Wa Jalla dan rasul-Nya telah mengharamkan jual beli babi, bangkai, arak dan berhala” [HR. Ahmad dari Jabir bin ‘Abdullah].

Hadits tersebut menerangkan bahwa Allah melarang aktivitas jual beli komoditas yang hukum asalnya adalah haram. Maka mengomersialisasikan perangkat lunak yang diperoleh secara ilegal juga akan menghasilkan uang yang haram.

Yqang kedu, bahwa orang yang memanfaatkan perangkat lunak bajakan untuk bekerja seperti hal-hal administratif, desain, atau sebagainya. Maka hasil yang didapat dari pekerjaan tersebut tetap halal. Hukum haram hanya terdapat pada kegiatan pembajakan yang dilakukan, sementara pekerjaan yang diusahakan tetap sah dan menghasilkan uang yang halal.

Dari penjelasan diatas, maka secara otomatis telah menjawab pertanyaan anda, yaitu penghasilan dari usaha ayah in syaa Allah hukumnya halal, yang karenanya tidak perlu untuk disucikan

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA