Kehidupan Suami Istri

Pernikahan & Keluarga, 14 September 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum,

Izin bertanya terkait kehidupan suami istri. Apa pandangan dalam islam baik terhadap sang suami dan terhadap sang istri. Ada seorang istri yang merasa jenuh ada di rumah. Untuk itu hampir setiap hari setelah mengantar anak sekolah selalu pergi keluar untuk berolah raga setelah itu berkumpul bersama teman-temannya. Setelah siang sang istri menjemput anak-anaknya sekolah, baru mengerjakan pekerjaan rumah memasak, memberi makan anak-anaknya, mencuci dan menyetrika pakaian. Malam harinya membantu anak-anaknya belajar. Sedangkan sang suami setiap pagi membersihkan rumah, menyapu dan mengepel rumah sebelum berangkat kerja. Sang suami selain bekerja juga mengambil proyek-proyek sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dimana semua hasil atau gaji suami dikelola oleh istri. Hampir setiap hari sang suami pulang dari kantor, tidak ada yang menyambut, bahkan semua keluarga seolah sibuk dengan dunianya. Terkadang dirumah suami lanjut bekerja sambil juga menemani anak-anak belajar. Setiap malam suami juga ikut membantu mencuci piring dan bersih-bersih rumah kembali. Terkadang suami menegur istri karena tanpa izin pergi bersama-sama teman-temannya dan tidak bercerita kepada suami. Namun sering kali istri tidak terima ditegur. Sedangkan sang suami tidak terima bila tidak dihormati oleh istri. Di mana istri selalu semangat ketika di luar rumah, namun mengeluh dan terlihat malas di rumah dengan alasan lelah. Menurut islam bagaimana yang harus dilakukan oleh masing-masing suami dan istri?

Terima kasih sebelumnya. Wassalamu'alaikum.



-- Kadek F. H. (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Secara umum anda dan isteri adalah pasangan yang baik. secara umum anda dan isteri telah mengerjakan tugas masing-masing. Kalaupun ada sesuatu yang kurang dari iseri anda, maka hal itu masih dalam kewajaran saja. Hanya perlu saling mengatakan dan mengkomunikasikan keinginan masing-masing agar bisa, bisa saling memahami.

Anda tidak suka jika isteri anda keluar rumah berkumpul bersama teman-temannya setelah dia mengantar anak. Dan baru mengerjakan pekerjaan rumah setelah dia balik dari menjemput anak. Dan semua pekerjaan rumah secara umum beres, meskipun anda perlu turun tangan untuk menangani beberapa pekerjaan rumah.

Isteri anda menganggap bahwa kepergian dia ke luar rumah bersama teman-temannya adalah wajar. Sementara anda menganggap hal itu tidak baik. dua pandangan yang berbeda ini menjadikan anda tidak nyaman.

Saran yang bisa kami sampaikan adalah:

  1. Anda dan isteri perlu menambah ilmu tentang tugas dan peran masing-masing dalam berkeluarga. Karena ilmu yang tidak sama menjadi sebab terjadinya sikap yang berbeda. Anda mengetahui bahwa isteri harus ijin ke suami jika ingin keluar rumah. Sementara isteri beranggapan hal itu tidak perlu. Keluar rumah tanpa ijin suami anda anggap sebagai kelasalahan dan pelanggaran, sementara isteri anda tidak menganggapnya sebagai pelanggaran. Datangi majlis taklim bersama-sama. Agar ilmu anda dan dia sama. Pemahaman anda berdua juga sama. Jika ilmu dan pemahaman sudah sama, maka tindakan juga akan sama.
  2. Sampaikan kepada isteri anda secara jelas dan tegas apa yang menjadi keinginan anda. Sampaikan dalam suasana santai dan tenang agar tidak terjadi kesalah pahaman. Agar isteri anda memahami apa yang diinginkan suaminya. Diantaranya sampaikan bahwa anda butuh disambut dan disapa ketika pulang kerja.
  3. Jangan terlalu hitung-hitungan dalam mengerjakan pekerjaan rumah dan dalam membantu pekerjaan isteri. Seperti membantu cuci piring dan lain sebagainya. Lakukan saja semampu anda dan serelanya anda. Jika anda hitung-hitungan, maka anda akan dibuat kesal dan mangkel ketika apa yang anda kerjakan itu tidak berbuah sambutan dan pujian manis dari keluarga. Kerjakan pekerjaan rumah semampu dan serelanya anda. Jika banyak pekerjaan isteri anda ambil, maka isteri merasa sah-sah saja meninggalkan rumah. Karena tidak ada lagi pekerjaan rumah yang harus dia kerjakan.
  4. Lanjutkan kebaikan yang sudah anda lakukan dan bersabarlah dalam membimbing isteri. Suatu saat dia akan mengerti bagimana semestinya bersikap kepada suami.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc