Nikah Sah Atau Tidak

Pernikahan & Keluarga, 16 September 2022

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum ustadz,

Saya pria berusia 32 sudah menikah dan memiliki 2 anak. Saat saya menikah saya tidak tahu kalau istri saya adalah anak diluar nikah (hamil duluan), saat menikah kami dinikahkan oleh penghulu sebagai wali nikah namun untuk pengucapan nama bintinya tetap menggunakan nama ayah istri saya. Saya baru mengetahui setelah menikah kalo ternyata istri saya anak di luar nikah begitu pula istri saya juga baru mengetahui. Apakah pernikahan saya sah ustadz? Dan bagaimana status kedua anak saya? Terima kasih sebelumnya.



-- Hamba Allah (Balikpapan)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Anak yang lahir di luar nikah-disebabkan karena hamil duluan-bila yang menikahi ibunya adalah yang menghamilinya, maka laki-laki yang menghamilinya itu sah menjadi ayahnya dan nasab anaknya bisa dinisbahkan kepadanya.

Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda: “Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal”. (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Pernikahan wanita hamil dengan laki-laki yang menghamilinya juga sah dihadapan hukum Negara. Hal itu tercantum dalam Kompilasi Hukum Islam yang menjadi acuan pernikahan di Indonesia:

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dengan instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991 Tanggal 10 Juni 1991, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 154 Tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut :

Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya.

Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih duhulu kelahiran anaknya.

Karena pernikahan yang dilakukan kedua orang tua isteri anda sah, maka anak yang dilahirkanpun juga anak yang sah dan ayahnya berhak menjadi wali nikahnya. Karena itu penyebutan nama ayahnya pada akad nikah yang anda lakukan tetap sah. Wallahu a’lam bsihowab (as)



-- Amin Syukroni, Lc