Diwajibkan Ikut Maulid, Jika Saya Tidak Ikut Maka Ada Konsekuensi,

Lain-lain, 16 Oktober 2022

Pertanyaan:

ASN diwajibkan ikut maulid, jika saya tidak ikut maka ada konsekuensi, seperti pemecatan. Apa yang saya lakukan ustadz?



-- Asra (Kendari)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Manusia selalu dihadapkan pada dua situasi. Situasi normal dan tidak normal. Pada kondisi normal, hukum yang diterapkan adalah hukum normal, yaitu azimah. Pada kondisi tidak normal atau darurat, hukum yang diterapkan adalah hukum tidak normal, yaitu rukhshah. Contohnya: orang yang sedang kelaparan dan tidak mendapatkan makanan selain daging babi, jika tidak makan daging babi itu, dia akan mati. Maka dia diperbolehkan makan daging babi, walaupun hukum asalnya adalah haram. Perubahan dari haram atau terlarang menjadi boleh itu disebut Rukhshah. Adanya rukhshah karena adanya kondisi darurat.

Kondisi dikatakan darurat jika kondisi itu mengancam nyawa, mengancam harta, mengancam agama dan lain-lain. Jika tidak diambil kondisi darurat itu maka akan membahayakan nyawa, menghilangkan harta, menghilangkan agama dan lain-lain. Allah swt berfirman:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Siapa yang dalam kondisi terpaksa memakannya sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al baqarah:173)

Kisah Ammar bin Yasir yang dipaksa untuk menghina Rasulullah saw oleh orang-orang kafir quraisy bisa menguatkan hujjah, bahwa orang dipaksa itu tidak dianggap kata-kata dan perbuatannya.

Disebutkan bahwa orang-orang musyrik pernah menyiksa ‘Ammar bin Yasir. Ia tidaklah dilepas sampai mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyanjung dengan kebaikan pada sesembahan orang musyrik. Lalu setelah itu ia pun dilepas. Ketika ‘Ammar mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia pun ditanya oleh Rasul, “Apa yang terjadi padamu?” “Sial, wahai Rasulullah. Aku tidaklah dilepas sampai aku mencelamu dan menyanjung-nyanjung sesembahan mereka. Rasul balik bertanya, “Bagaimana hatimu saat itu?” Ia menjawab, “Hatiku tetap dalam keadaan tenang dengan iman.”  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali mengatakan, “Kalau mereka memaksa (menyiksa) lagi, silakan engkau mengulanginya lagi seperti tadi.

Dengan demikian, jika ada seseorang yang diwajibkan oleh atasannya untuk melakukan suatu kegiatan, jika tidak dilakukan akan mengancam jiwa, harta dan mengguncang kehidupannya, maka dia diperbolehkan mengambil rukhshah.

Demikian yang bisa disampaikan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc