Puasa Sunnah

Puasa, 17 Oktober 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya ingin bertanya mengenai puasa sunnah, misalkan saya pagi saat akan pergi kerja terus buru-buru jadi tidak sempat sarapan, tidak terasa tiba-tiba hari menjelang siang terus saya kepikiran untuk puasa sunnah senin karena memang hari senin. Apakah boleh saya niat puasa sunnah senin kamis saat menjelang siang hari? karena memang dari pagi saya tidak memakan apa2



-- Hamba Allah (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Ada pendapat dari sebagian Ulama', bahwa orang yang lupa niat puasa sunnah Senin Kamis di malam hari (sebelum waktu fajar), maka bisa niat di pagi hari.
 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ

 
Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari lantas beliau berkata, “Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?” Kami pun menjawab, “Tidak ada.” Beliau pun berkata, “Kalau begitu saya puasa saja sejak sekarang.” Kemudian di hari lain beliau menemui kami, lalu kami katakan pada beliau, “Kami baru saja dihadiahkan hays (jenis makanan berisi campuran kurman, samin dan tepung).” Lantas beliau bersabda, “Berikan makanan tersebut padaku, padahal tadi pagi aku sudah berniat puasa.” Lalu beliau menyantapnya. (HR. Muslim no. 1154).
 
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan :
“Dalil di atas adalah dalil bagi mayoritas ulama bahwa boleh berniat di siang hari sebelum waktu zawal (matahari bergeser ke barat) pada puasa sunnah.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 33)
 
Adapun untuk puasa sunnah ada keringanan boleh berniat di pagi bahkan siang hari, asal sebelumnya belum makan makanan apa pun atau belum melakukan pembatal-pembatal puasa.
 
Namun menurut sebagian Ulama, bahwa ini hanya berlaku untuk puasa sunnah mutlak. Sedangkan puasa sunnah tertentu (mu’ayyan) yang dikaitkan dengan waktu tertentu, maka sama dengan puasa wajib harus ada tabyiytun niat, yaitu niat di malam hari sebelum fajar Shubuh.
 
Misalnya jika melaksanakan puasa sunnah ayyamul bidh (13, 14, 15 H), maka ia harus ada niat puasa sunnah sejak malam. Jadi berlaku untuk puasa mu’ayyan (tertentu) baik puasa wajib maupun sunnah, harus ada niat puasa sejak malam hari. Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah.
 
Dalam mensikapi perbedaan antara Ulama, maka kita boleh untuk memilih satu pendapat dengan tidak menginkari pendapat yang berbeda
 
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka apa yang telah anda lakukan, in syaaAllah diperbolehkan oleh mayoritas Ulama, sehingga in syaa Allah puasa anda sah
 
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemufdahan, gtaufiq dan ridho-Nya
 
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
 


-- Agung Cahyadi, MA