Hukum Membuka Aib

Lain-lain, 26 Oktober 2022

Pertanyaan:

Saya ingin  bertanya, apakah boleh seorang anak menceritakan aib orangtua kepada sahabat karna ingin bercerita tentang masalah rumah? Saya adalah anak yang termasuk broken home dan ingin meluapkan isi hati saya kepada  sahabat saya. Dan apakah dosa kalau diceritakan kesahabat?



-- Neil Humaira (Nganjuk)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Menceritaan aib orang tua atau orang lain adalah ghibah. Yaitu menyebut aib atau kekurangan orang lain, walaupun hal itu benar adanya. Dosanya sangat besar. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Itulah ketentuan asal hukum ghibah. Haram dan dosanya sangat besar.

Ghibah baru diperbolehkan jika ada kondisi darurat atau kondisi yang memaksa. Misalnya, jika tidak dilakukan maka akan menimbulkan kemadharatan kepada orang lain atau diri sendiri. Diantara kondisi yang membolehkan seseorang mengghibah orang lain adalah:

  1. Jika ada orang mau menikah, kemudian dia membutuhkan informasi tentang kepribadian calon suami atau isteri. Maka diperbolehkan mengungkap sisi kepribadiannya yang baik maupun yang buruk. Karena jika tidak diceritakan apa adanya, bisa jadi akan membawa kemadharatan pada pasangan itu setelah pernikahan.
  2. Meminta fatwa. Jika orang membutuhkan fatwa atau pendapat tentang orang lain. jika tidak diceritakan akan menimbulkan kesalah pahaman dan menimbulkan gagal faham. Dan berakibat pada pemberian fatwa dan pendapat yang tidak tepat. Karena seseorang itu akan menjawab sesuai informasi yang dia terima. Dalam kondisi seperti itu, diperbolehkan menyampaikan aib atau kekurangan orang lain sesuai dengan kebutuhan.
  3. Menjauhkan orang lain dari keburukannya. Terkadang ada orang yang memiliki sikap buruh atau aib pribadi yang bisa mencelakaan orang lain. Jika tidak diceritakan kepada orang lain, maka orang lain itu bisa menjadi korban kejahatannya. Karena itu diperbolehkan menyampaikan keburukannya agar tidak banyak jatuh korban kejahatannya.

Untuk memastikan anda termasuk orang yang diperboleghkan ghibah atau tidak, silahkan fikirkan, apakah anda pada salah satu kondisi yang diperbolehkan untuk melakukan ghibah atau tidak. Demikian yang bisa disampaikan. Wallahu a’lam bishowab.(as).



-- Amin Syukroni, Lc