Kdrt, Judi, Di Penjara

Pernikahan & Keluarga, 7 November 2022

Pertanyaan:

assalamualaikum wr wb.

mohon maaf sebelumnya, saya ingin berkonsultasi tentang suami saya. saya menikah sudah 2 tahun setengah. saat ini suami saya sedang di penjara jalan 3 bulanan. 

di awal pernikahan suami saya selalu marah" tidak jelas seperti membenci saya, suami saya selalu mencari kesalahan saya hingga terjadi Kdrt, tapi saya tetap sabar dalam menghadapi suami saya, berjalannya pernikahan suami saya selalu menjelek" kan saya apalagi kepada mertua saya dan mertua saya tidak membela saya, hingga saya dengar mertua saya ternyata di belakang saya suka membicarakan keburukan saya , tapi saya tetap diam dan sabar. berjalannya waktu suami saya makin malas mencari nafkah malah keluar berjudi dan sabung ayam , akhirnya saya yang mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan suami juga mertua saya karena saya tinggal di rumah mertua saya , hingga saya menyusahkan orang tua saya karena butuh uang , tapi suami saya malah tidak menyukai orang tua saya karena iri dengan orang tua saya. hingga kemudian hari suami saya di penjara karena berjudi. waktu demi waktu orang iba melihat saya karena kelakuan suami saya mereka bercerita tentang bagaimana suami saya ternyata masih banyak yang di tutupi suami saya hingga saya kaget mendengarnya dan akhirnya orang tua saya tahu perbuatan suami saya . saya mendengar semua saya merasa sangat tersakiti apalagi orang tua saya juga ikut mendapat fitnah dari suami saya. sakit hati saya hingga berfikir untuk menceraikan suami saya. ketika saya melihat suami di penjara beliau bilang maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi , tapi saya takut jika di ulangi lagi karena sebelum di penjara suami saya hanya sering berjanji tidak mengulangi tapi selalu di ulangi hingga memarahi saya jika ketahuan . apakah keputusan saya untuk menceraikan suami saya ini tepat ? 

karena saya berfikir tidak sanggup jika terus" an kedepannya hidup saya seperti ini terus karena sifat suami saya yang keras dan pembohong , tapi saya merasa iba.. saya bingung 



-- Aisya (Kediri)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Terkait boleh tidaknya anda meminta cerai. Dapat kami sampaikan bahwa seorang wanita tidak boleh meminta cerai tanpa adanya alasan syar’i. Alasan yang dibenarkan syariat. Rasulullah saw bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ.

“Wanita mana saja yang minta cerai dari suaminya tanpa adanya alasan, maka ia tidak akan mencium bau wanginya Surga (HR. Ibnu majah, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Adapun alasan yang dibenarkan syariat adalah:

  1. Suami melakukan kekufuran. Atau perbuatan yang menjadikan seseorang menjadi kafir.
  2. Suami melakukan perbuatan dosa besar. Contohnya: Judi
  3. Suami meninggalkan isteri dalam waktu lama tanpa ada kejelasan sebab dan tempat.
  4. Suami tidak memenuhi hak isteri, baik hak lahir maupun batin.
  5. Isteri tidak sanggup melayani suami karena sudah tidak memiliki rasa cinta kepada suaminya.

Ada salah seorang sahabat perempuan yang menggugat cerai suaminya yang bernama Tsabit bin Qois. Perempuan itu tidak menggugat cerai suaminya karena buruknya akhlak dan agama. Tapi karena wajah Tsabit bin Qois yang tidak menarik. Karena itu dia tidak bisa melayani suaminya. Dia melaporkan hal tersebut kepada rasulullah. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

جَاءَتِ امۡرَأَةُ ثَابِتِ بۡنِ قَيۡسِ بۡنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتۡ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَنۡقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلَا خُلُقٍ، إِلَّا أَنِّي أَخَافُ الۡكُفۡرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (تَرُدِّينَ عَلَيۡهِ حَدِيقَتَهُ؟) فَقَالَتۡ: نَعَمۡ، فَرَدَّتۡ عَلَيۡهِ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا

“Istri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama, tidak pula dalam hal akhlak. Hanya saja aku mengkhawatirkan kekufuran.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Engkau bisa mengembalikan kebunnya kepadanya?’ Istri Tsabit menjawab, ‘Iya.’ Dia pun mengembalikannya kepada Tsabit dan Nabi memerintahkan Tsabit untuk menceraikannya.” (HR. Bukhari no. 5276)



-- Amin Syukroni, Lc