Pilih Keluarga Atau Suami?

Pernikahan & Keluarga, 10 November 2022

Pertanyaan:

Bismillah.

Suami saya melakukan kesalahan dengan sengaja mengintip adik perempuan saya di kamar sebanyak 2x. Keluarga sudah mengetahui. Suami saya sudah meminta maaf ke adik saya, orang tua saya, dan orang tua suami saya. Orang tua saya sudah memaafkan, saudara saya tidak mau memaafkan suami saya. Dan melarang suami saya menampakkan wajahnya di depan orang tua kami. Suami berjanji tidak mengulangi lagi dan sudah melakukan sholat taubat. Ibadah sholatnya sekarang sudah diperbaiki dengan sering sholat di mesjid dan sholat malam.

Apakah saya salah jika saya tetap mau mempertahankan rumah tangga saya? Sedangkan saudara saya marah dan menjauhi saya. Apa yang harus saya lakukan agar keadaan bisa normal kembali? Saya tidak membenarkan apa yang sudah suami saya lakukan, tapi saya tetap ingin hubungan keluarga saya baik-baik saja.



-- Hamba Allah (Berau)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Setiap manusia berpotensi untuk berbuat salah. Baik itu disengaja atau tidak. Tidak ada orang yang tidak pernah berbuat salah. Diantara manusia telah yang berbuat salah itu,yang terbaik adalah mereka yang mau bertaubat. Rasulullah saw bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Maajah)

Suami anda sudah mengakui kesalahannya dan telah meminta maaf kepada adik anda, selaku korban kesalahan suami anda, dan sudah pula meminta maaf kepada orangtua anda juga. Orang tua anda telah memaafkan kesalahan suami anda. Hanya adik anda yang belum mau memaafkan dan justeru dia memalas suami anda dengan melarangnya menemui orang tua anda.

Wajar adik anda marah. Tapi menjadi tidak wajar ketika kemarahannya melebar kemana-mana. Suami anda hanya bersalah kepada adik anda, bukan kepada orangtua anda. Semestinya dia hanya marah kepada suami anda. Apa kaitan kesalahan suami anda dengan tidak dibolehkannya dia bertemu orang tua anda. Seharusnya adik anda cukup mensikapi permintaan maaf suami anda saja. Bukan dengan melarang suami anda bertemua dengan orangtua anda, bukankah itu sama saja dengan memutuskan hubungan silaturahmi? Memutuskan hubungan silaturahmi itu dosa besar. Pelakunya diancam tidak tidak masuk surga. Rasulullah saw bersabda:

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – لَا يَدْخُلُ اَلْجَنَّةَ قَاطِعٌ – يَعْنِي: قَاطِعَ رَحِمٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anda juga tidak perlu berlebihan mensikapi sikap adik anda yang melarang suami anda bertemu orantua anda dangan mengaitkannya urusan adik anda dengan rumah tangga anda. Jangan memperlebar masalah dan dampak. Batasi masalah pada kesalahan suami anda dan sikap adik anda saja.

Tetaplah anda bertahan dengan keluarga anda. karena keluarga anda nggak terkait dengan masalah suami anda. itu masalah pribadi dia dan adik anda sebagaimana adik anda tidak boleh melarang suami anda untuk bertemuan dangan orangtua anda. keduanya hal yang berbeda.

Sikapilah sikap anda itu dengan bijak. Semoga dengan begitu dia mau melapangkan dadanya dan memaafkan suami anda. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc