Hak Istri Setelah Bercerai

Fiqih Muamalah, 11 November 2022

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warrohmatullah wabarokatuh

Semoga ustadz/ustadzah selalu dalam lindungan Allah subhanahu wata'ala

Apakah boleh seorang istri meminta hak nafkah lahir setelah bercerai dengan suaminya selain nafkah untuk anaknya?

Misal seorang istri menuntut suaminya untuk bertanggung jawab akan nafkah materi sebesar Rp. 2.000.000 perbulan untuk dirinya dari suami di luar tanggungan nafkah untuk anaknya.

Meminta rumah tinggal dan kendaraan karena istri merasa pernah membantu suami dalam usaha dan juga membayar hutang²nya.

Atas kesediaan dan perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu'alaikum warrohmatullahi wabarokatuh



-- Ari (Depok)

Jawaban:

Wa'alaikumusalaam wrwb.

Ada beberapa hak dan kewajiban bagi seorang wanita yang telah ditalak oleh suaminya

Syekh Abu Syuja dalam al-Ghâyah wa al-Taqrîb telah mengemukakannya,

  ويجب للمعتدة الرجعية السكني والنفقة ويجب للبائن السكني دون النفقة إلا أن تكون حاملا ويجب على المتوفى عنها زوجها الإحداد وهو الامتناع من الزينة والطيب وعلى المتوفى عنها زوجها والمبتوتة ملازمة البيت إلا لحاجة

Perempuan yang ber-iddah (selama 3 kali suci) dari talak raj‘i (bisa dirujuk yaitu talak yang pertama dan kedua) wajib diberi tempat tinggal dan nafkah. Sedangkan perempuan yang ditalak ba’in wajib diberi tempat tinggal tanpa nafkah kecuali ia sedang hamil. Kemudian perempuan yang ditinggal wafat suaminya wajib ber-ihdad, dalam arti tidak berdandan dan tidak menggunakan wewangian. Selain itu, perempuan yang ditinggal wafat suaminya dan putus dari pernikahan wajib menetap di rumah kecuali karena kebutuhan,” (Syekh Abu Syuja, al-Ghâyah wa al-Taqrîb, terbitan Alam al-Kutub, hal. 35). 

Dengan memperhatikan petikan matan di atas dan juga penjelasannya para Ulama fiqih, dapat disampaikan beberapa kesimpulan tentang hak dan kewajiban perempuan beriddah, yakni sebagai berikut : 

1. Perempuan yang sedang beriddah dari talak raj‘i berhak mendapat tempat tinggal yang layak, nafkah, pakaian, dan biaya hidup lainnya dari mantan suami, kecuali jika ia nusyuz (durhaka) sebelum diceraikan atau di tengah-tengah masa iddahnya.  Hal itu berdasarkan firman Allah swt yang artinya :

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) keluar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. (QS, 65:1),  Dan juga sabda Rasulullah saw., “Perempuan beriddah yang bisa dirujuk oleh (mantan) suaminya berhak mendapat kediaman dan nafkah darinya.”

2. Perempuan yang sedang beriddah dari talak ba’in, baik karena khulu‘, talak tiga, atau karena fasakh, dan tidak dalam keadaan hamil, berhak mendapat tempat tinggal saja tanpa mendapat nafkah kecuali jika ia durhaka sebelum ditalaknya atau di tengah masa iddahnya. 

3. Perempuan yang sedang beriddah dari talak ba’in dan keadaan hamil juga berhak mendapat tempat tinggal dan nafkah saja. Tidak berhak atas biaya lainnya. Hanya saja terjadi perbedaan pendapat, apakah nafkah itu gugur karena nusyuz atau tidak. 

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA