Suami Saya Kurang Pemahaman Agamanya, Bolehkah Saya Menggugat Cerai

Pernikahan & Keluarga, 13 November 2022

Pertanyaan:

𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮 𝘞𝘳. 𝘞𝘣

𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘣𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 2 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘢𝘬, 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘳𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘢𝘧𝘬𝘢𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢, 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘨 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩. 

𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 2 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘰 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘵𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢.

𝘚𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘣𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨2, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳, 𝘴𝘦𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢. 12 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘯𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘰𝘭𝘢𝘵, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘩𝘰𝘭𝘢𝘵 𝘫𝘶𝘮𝘢𝘵, 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘳𝘢𝘮𝘢𝘥𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘭. 𝘚𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘩𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘵𝘢2 𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨𝘵𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘤𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬2 𝘴𝘢𝘺𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘴𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘢. 𝘚𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘵𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢2 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶. 𝘏𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵, 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘦𝘯, 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘨𝘢𝘵 𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘒𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬2 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘔𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬2 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘰𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬2𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘰𝘭𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘮𝘢𝘩, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘨 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘢𝘭𝘪𝘩, 𝘬𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬2𝘯𝘺𝘢. 

𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬2𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘤𝘪 𝘣𝘢𝘫𝘶, 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘬, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴2 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩. 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘬 𝘯𝘺𝘢. 

𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢. 𝘋𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘵𝘢2 𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘳, 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬2 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘢𝘺𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘰𝘴𝘰𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢. 

𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘮𝘢. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘶𝘣𝘶𝘬 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘬𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘬𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩? 𝘚𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 12 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢. 

𝘔𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 

𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬🙏

 



-- Tities Susanti (Kabupaten Tangerang)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Perselisihan suami dan isteri biasa terjadi. Banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Diantara penyebabnya adalah kelelahan fisik dan mental yang tidak tertahankan. Sehingga masalah kecil bisa jadi besar.

Isteri pasti lelah fisik dan mental jika dia harus menjadi tulang punggung keluarga. Karena fitrahnya isteri adalah tinggal di rumah mengurus urusan rumah tangga dan anak-anak. Kalupun  dia harus bekerja, maka sifatnya hanyalah membantu suami, bukan menggantikan peran suami. Hal ini bisa membuat isteri mudah tersulut emosinya karena kelelahan fisik dan mental.

Suami yang menganggur di rumah karena usahanya bangkrut sehingga dia tidak bisa menjadi tulang punggung keluarga dan hanya tinggal di rumah dan hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan isterinya, merupaakan tekan mental yang berat bagi seorang suami. Akan timbul perasaan tidak berarti dan tidak berdaya. Hal ini tentu membuat suami sensitive dan mudah tersulut emosinya.

Bila orang saling membenci maka keduanya akan lebih mudah melihat kekurangannya daripada kelebihannya. Kekurangan yang dulu termaafkan, sekarang tak termaafkan. Keduanya telah dibutakan oleh emosinya. Ibarat kata pepatah:” semut diseberang lautan tanpak nyata,gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”.

Cara terbaik menyelesaikan masalah itu adalah musyawarah. Mencari solusi yang terbaik untuk suami dan isteri. Karena masalah itu sering timbul bukan karena masalah itu yang serius yang tak termaafkan, tapi lebih banyak karena masalah itu terjadi akibat emosi yang tak terkontrol dan karena kesalah pahaman antara keduanya. Sehingga ketika masalah itu berdampak pada sesuatu yang lebih buruk, baru ada penyesalan. Disini diperlukan sikap tenang dan sabar dalam menghadapi masalah.

Bantulah suami anda kembali bisa bekerja dan berpenghasilan. Karena hal itu akan meningkatkan harga dirinya. Bagi seorang suami, memberi itu lebih baik daripada menerima. Tingkkatkan harga dirinya dengan motivasi untuk terus membngun usahanya kembali dan jangan biarkan dia mengerjakan pekerjaan rumah seperti pembantu rumah tangga. Dorong terus dia mencari peluang bisnis sesuai dengan keahlian dia. semoga dengan itu dia kembali bisa berdaya dan kembali menjadi suami sejati.

Kembalilah anda ke suami dan mulailah kehidupan baru lagi bersama suami anda. Jika dibutuhkan pihak ketiga sebagai juru damai, hadirkan dia agar bisa menjadi penengah dalam menghadapi konflik agar masalah tidak berkepanjangan. Allah swt berfirman:

وَ اِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيْدَآ اِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيْمًا خَبِيْرًا.

Artinya : “Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan, jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.” (An-Nisa’ ayat 35)

Juru damai ini bisa mewakili keluarga anda dan keluarga suami anda. Juru damai itu hendaknya mereka yang bisa melihat masalah anda secara jernih dan tidak berpihak. Dengan begitu mereka akan memberikan solusi terbaik untuk keluarga anda. demikian yang bisa disampaikan. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc