Hukum Menggambar Minuman Beralkohol & Babi

Fiqih Muamalah, 28 November 2022

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, saya ingin bertanya mengenai hukum menggambar minuman apple cider & babi. Saya adalah seorang desainer yg biasa berjualan gambar di internet. Apakah boleh bila saya menggambar 2 hal tersebut? Apakah hukum haram ketika dikonsumsi juga berimplikasi pada keharaman saat menggambarnya? Saat saya menjual ke internet gambar tersebut bisa dibeli oleh siapa saja tanpa saya tau penggunaannya untuk apa. Apakah objek yg mempunyai peluang digunakan untuk hal yg mungkin halal & mungkin haram diperbolehkan untuk digambar?(contoh : apple cider bisa mengandung alkohol bisa tidak, gambar babi bisa digunakan untuk resto atau sekedar gambar kartun untuk belajar anak).Apakah uang yg dihasilkan dari penjualan itu juga jadi haram? Mohon penjelasannya



-- Melvin Ilham (Bandung)

Jawaban:

Wa'laikumussalaam wrwb.

Siapapun yang ikut berkontribusi terjadinya hal yang hukumnya haram, itu juga akan mendapatkan dosanya, meskipun dosanya mungkin tidak sebasar dosa orang yang melakukannya

Dan khusus untuk menggambar makhluk bernyawa hukum asalnya haram. Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ

“Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah tukang gambar (makhluk bernyawa)” (HR. Bukhari no. 5950, Muslim no.2109).

Berikut ini ada hadits dari Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu yang menjelaskan batasan gambar yang dilarang, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الصُّورَةُ الرَّأْسُ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ فَلَيْسَ بِصُورَةٍ

“Inti dari shurah/gambar adalah kepalanya, jika kepalanya dipotong, maka ia bukan shurah” (HR. Al Baihaqi no.14580) Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.1921).

Hadits diatas menunjukkan bahwa inti dari ash shurah atau gambar adalah kepala, jika gambar kepala tidak ada maka tidak lagi disebut ash shurah. 

Oleh karena itu, sebagian ulama memberikan kelonggaran menggambar makhluk bernyawa jika: tidak ada kepalanya, atau ada kepalanya namun tidak sempurna wajahnya.


Karena gambar yang seperti itu tidak termasuk menandingi ciptaan Allah. Maksudnya, manusia ciptaan Allah tidak ada yang tanpa kepala atau tanpa wajah. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan:

الذي ما تتبين له صورة ، رغم ما هنالك من أعضاء ورأس ورقبة، ولكن ليس فيه عيون وأنف: فما فيه بأس؛ لأن هذا لا يضاهي خلق الله

“Gambar makhluk bernyawa yang tidak jelas, seperti yang memiliki anggota tubuh seperti yaitu kepala dan leher, namun tidak ada matanya dan tidak ada hidungnya, maka yang seperti ini tidak mengapa. Karena tidak menandingi ciptaan Allah”. Beliau juga mengatakan:

إذا لم تكن الصورة واضحة، أي: ليس فيها عين، ولا أنف، ولا فم، ولا أصابع: فهذه ليست صورة كاملة، ولا مضاهية لخلق الله عز وجل

“Jika gambar makhluk bernyawa tersebut tidak jelas, yaitu tidak ada matanya, tidak ada hidungnya, tidak ada mulutnya, dan tidak ada jari-jarinya, maka ini bukan gambar makhluk bernyawa yang sempurna dan tidak termasuk menandingi ciptaan Allah” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 2/278-279).

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA