Nafkah Istri


Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad, saya Mila. Saya sudah menikah hampir 15 thn . Selama ini sy mencukupi kebutuhan pribadi sy sendiri sampai kemudian saya resign saat COVID. Bahkan urusan dapur juga lebih banyak saya yg meng-handle (dari penghasilan saya). Sehingga setelah resign sy minta suami untuk mengeluarkan belanja keluarga lbh dari biasanya, karena saya sdh tidak ada pemasukan. Saya tidak merasa pernah di kasih nafkah ( uang ) untuk diri pribadi saya sendiri. Tapi ketika sy meminta barang selalu di belikan oleh suami. Setiap suami memberi uang selalu menyuruh saya untuk di belikan emas, yang artinya lagi lagi itu untuk keluarga, bukan untuk saya. Puncaknya... Tiba tiba saya di kasih uang. Saya pikir itu untuk saya. Ternyata sedikit demi sedikit di minta untuk membayar beberapa urusan. Bayar pajak...kasih orang tua...dan terakhir sisanya di minta untuk biaya kurban. 

Jujur... Saya merasa terdholimi ustad. Saya juga iri karena suami dengan mudah nongkrong sama temannya. Sementara saya hanya berkutat di rumah. Bahkan sy sedang memikirkan untuk memulai bekerja kembali agar saya bebas untuk membelanjakan uang saya tanpa ada kekhawatiran untuk di minta kembali. Suami saya baik..tapi perhitungan jika dengan saya ustadz. Saya harus bagaimana ya... Jika saya sindir tentang nafkah untuk saya, selalu di jawab tidak ada. Pdhal uang belanja yang di berikan ke saya itu hanya 1/4 dari gajinya. 

Mohon pencerahannya ustadz, saya harus bagaimana.



-- Mila (Sidoarjo )

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Setiap suami dan isteri memiliki tugas dan peran masing-masing. Suami berperan sebagai kepala rumah tangga,pencari nafkah, pelindung keluarga. Tugasnya lebih banyak di luar rumah daripada di dalam rumah. Sementara isteri berperan sebagai manager rumah tangga, menangani urusan detail dan pernik-pernik dalam rumah, mulai memasak, membereskan rumah dan mengasuh anak. Pembagian peran seperti itu dalam rangka untuk menjaga keseimbangan keluarga. Ada yang bertugas keluar rumah, dan ada yang bertugas di dalam rumah. Ibarat hewan, ada yang keluar goa untuk mencari mangsa dan berburu, dan ada yang menjaga goa dan membesarkan penghuninya.

Dulu anda mengelola keuangan dengan bebas, karena sebagian besar dari uang anda, anda pakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Uang suami anda tidak banyak yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Anda bebas mengelolanya, karena itu uang anda sendiri, dari hasil kerja sendiri.

Ketika anda tidak lagi bekerja, dan anda tidak bisa sepenuhnya mengelola uang keluarga, anda merasa terkekang dan tidak bebas lagi mengelola uang keluarga. Sekarang uang suami yang anda kelola, sehingga ada campur tangan yang cukup mengikat kebebasan anda dalam mengelola uang keluarga. Anda peras tidak bebas. Anda merasa tertekan dan tidak bebas lagi. Karena perasaan itulah anda merasa diperlakukan tidak adil dan hanya menjadi orang rumahan saja.

Perlu diketahui, bahwa bekerja mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan pribadi adalah kewajiban suami. Dia wajib menafkahi keluarganya dari uangnya bukan dari uang isterinya, akan tapi anda ambil peran itu. Dampaknya suami anda merasa keenakan, dan lupa akan kewajibannya kepada keluarganya, isteri dan anak-anaknya.

Allah membagi peran suami dan isteri ,sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah saw:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis diatas menjelaskan tugas suami dan isteri. Suami adalah penanggung jawab urusan keluarganya, dan isteri adalah penanggung jawab khusus urusan dalam rumah suaminya. Termasuk urusan rumah adalah membereskan semua hal dalam rumah. Urusan dalam rumah adalah kewajiban isteri, bukan kewajiban suami. walaupun suami yang baik adalah suami yang mau membantu urusan rumah jika isteri tidak mampu mengerjakan semua urusan rumahnya.

Perlu juga diketahui bahwa seorang wanita itu lebih baik berada  di rumah. Tidak keluar rumah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 33).

Wanita diperintahkan untuk di rumah, bukan untuk dibatasi geraknya, tapi untuk membina anak dan keluarganya yang selelu ditinggal pergi bekerja ayahnya. Apa jadinya jika ayah dan ibu sama-sama keluar rumah, siapa yang harus mendidik dan mengasuh generasi mendatang.

Adapun sikap suami anda yang kurang membantu urusan rumah tangga, tidak boleh menjadi alasan anda untuk meninggalkan urusan rumah dan ingin bebas seperti laki-laki. Dia hanya perlu diajak bicara tentang urusan keluarga ketika dia berada di rumah. Sampaikan keinginan anda dengan cara yang baik agar dia tidak meraka diperintah,tapi merasa dibuthkan bantuannya. Dan ajaklah suami anda untuk membicarakan urusan rumah tangga dengan baik, agar dia merasa dilibatkan dan dibutuhkan. Sampaikan dengan kalimat yang lugas dan jelas permintaan anda. Jangan hanya berharap dia akan mengetahui keinginan anda tanpa diminta. Karena laki-laki itu tidak pandai menangkap isyarat. Dia butuh kalimat lugas dan tegas. Demikian yang bisa disampaikan. Terimakasih. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc