Keraguan

Thaharah, 22 Agustus 2023

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb 

Ustad, Apakah keraguan itu benar benar tidak berhukum. Misalnya maaf kelamin saya menegang. Saya yakin tidak mungkin keluar madzi. Kemudian saat di kamar mandi saya cek celana dalam banyak pulau. Saya memang suka membasahi kemaluan dan celana setelah kencing dan hendak shalat. 

Pertanyaan saya, saya ragu pulau yg banyak itu madzi atau bekas saya membasahi sebelum sebelumnya. Waktu itu ashar saya memsahi dari pagi, siang. Setiap buang air. Atau terakhir mau shalat Dzuhur. Bagaimana hukumnya keraguan itu. 

Apakah bisa saya abaikan. Karena tidak ada bukti kongkrit. Dan saya tidak bisa cek saat menegang langsung. Karena di tengah pekerjaan dan harus berjalan ke kluar oabrik.

Saya cek beberapa menit kemudian. Baru lh ragu apakah bekas di celana dalam madzi atau bukan. Bagaimana hukumny ustad.



-- Fu An (Bdg)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Dalam salah satu Kaidah Fiqih disebutkan :

لاَ يُعْتَبَرُ الشَّكُّ بَعْدَ الْفِعْلِ وَمِنْ كَثِيْرِ الشَّكِّ

"Rasa ragu setelah melakukan perbuatan dan rasa ragu dari orang yang sering ragu itu tidak dianggap". Kaidah ini merupakan cabang atau bagian dari kaidah “keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan sekedar keraguan”. Secara umum, kaidah ini menjelaskan tentang orang yang mengalami keragu-raguan dalam suatu amalan. Jika rasa ragu itu muncul setelah melakukan suatu amalan, maka rasa itu tidak perlu dihiraukan. Demikian pula, jika rasa ragu itu muncul dari orang yang sering ragu.

Jika keraguan itu muncul setelah beramal maka ia tidak dianggap. Karena hukum asalnya, jika seseorang telah usai mengerjakan suatu amalan berarti amalan itu telah dilaksanakan secara sempurna. Keraguan yang muncul setelah beramal hanya sekedar bisikan syetan. Obat dari rasa ragu jenis ini ialah tidak memperdulikannya.

Adapun jika keraguan itu muncul di tengah-tengah saat beramal, atau akan melaksanakan ibadah, maka ketika itu keraguannya dianggap. Karena jika seseorang ragu, apakah ia sudah mengerjakan ibadah atau belum, maka hukum asalnya ia belum mengerjakannya.

Jadi, rasa ragu itu tidak dipedulikan dalam dua keadaan dan diperhitungkan dalam satu keadaan. Jika rasa ragu itu muncul dari orang yang sering ragu, maka itu tidak dianggap secara mutlak, baik munculnya saat pelaksanaan ibadah maupun setelahnya. Juga tidak dianggap, jika muncul dari orang yang normal namun munculnya setelah selesai beramal.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al ‘Utsaimîn rahimahullah menyebutkan dalam Manzhûmah Ushûlil-Fiqh wa Qawâ’idihi pada bait ke-38 :

وَالـشَّــكُّ بَــعْـدَ الْـفِـعْـلِ لَا يُــؤَثِّــرُ
وَهَــكَـذَا إِذَا الـشُّــكُــوْكُ تَــكْـثُــرُ
Dan keraguan setelah perbuatan tidaklah berpengaruh
Demikian pula jika keraguan itu sering terjadi.

Di antara dalil yang mendasari kaidah ini adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allâh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah/2:286)

Diantara perkara yang berat dan tidak mampu dipikul seorang hamba ialah apabila rasa ragu yang muncul dari orang yang mengalami penyakit ragu itu diperdulikan. Sehingga hal itu ditiadakan oleh Allâh Azza wa Jalla . Dalam ayat yang lain Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allâh.” (QS al-Mujâdilah/58 :10)

Keragu-raguan yang muncul dari orang yang sering ragu pada hakikatnya berasal dari setan. Oleh karena itu, keraguan itu tidak perlu dihiraukan. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setan senantiasa menggoda dalam diri manusia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنَ اْلإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan berjalan di dalam diri manusia di tempat mengalirnya darah.

Demikian pula, kaidah ini telah ditunjukkan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu hadits shahih tentang seorang laki-laki yang merasakan sesuatu di perutnya seolah-olah ia telah berhadats, sehingga ia ragu-ragu apakah telah berhadats ataukah belum, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا , أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

Artinya: janganlah ia keluar dari shalatnya sehingga mendengar suara atau mendapatkan baunya (HR. MUslim)

Yaitu janganlah ia keluar dari shalatnya hanya karena yang ia rasakan itu sampai benar-benar yakin bahwa ia telah berhadats. Hadits ini sekaligus merupakan dalil umum bahwa keyakinan tidak bisa dikalahkan hanya karena sekedar keragu-raguan.


Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu 'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.

 



-- Agung Cahyadi, MA