Cara Perciki Madzi

Thaharah, 22 Agustus 2023

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad.

Ada yang bilang madzi cukup diperciki. Misal ada madzi dicelana. Lalu diperciki. Otomatis masih ada yg tidak terciprat. Bagaimana hukumnya? Apakah cukup diciprat sekali. Mau kena atau tidak pakaian sudah bisa dipakai shalat?

Karena ragu saya Ciparay berkali kali hingga basah. Celana juga sama. Saya Ciprat uga. Jaga jaga kalau kena. Saya Ciprat berkali kali ustad.

Bagaimana hukumnya?

Kemudian celana yg saya pegang itu. Setelah pegang celana dalam yg indikasi kena basah cipratan yg kena madzi juga. Saya pegang sabuk. Apakah sabuknya najis? 



-- Rbi (Bgh)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Para Ulama bersepakat bahwa madzi adalah najis, dan cara membersihkannya adalah dengan membasuh badan yang terkena madzi, dan apabila mengenai pakaian, cukup yang menuangkan air ke telapak tangan dan menyiramkannya ke celana yang terkenan madzi, berikut penjelasaannya :

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang menyuruh Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal dirinya yang sering mengeluarkan madzi, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يغـسل ذكره ويتـوضأ

“(Hendaklah) dia mencuci kemaluannya dan berwudhu’.” (Shahih, riwayat Bukhari), dalam Fat-hul Baari (I/230 no. 132) dan Muslim (no. 303))

Tak hanya harus membersihkan kemaluan, ketika madzi keluar dan mengenai pakaian seperti celana dalam, maka harus segera dibersihkan pula. Cara membersihkan pakaian yang terkena madzi tidak perlu dengan mencuci seluruh pakaian, cukup dengan membasahi bagian yang terkena madzi saja

Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai madzi yang mengenai pakaiannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

يكفيك أن تأخذ كفا من ماء فتـنضح به ثو بك حيث ترى أنه قد أصاب منه

“Cukuplah bagimu mengambil air satu telapak tangan, lalu tuangkanlah ke pakaianmu (yang terkena madzi) sampai engkau lihat air tersebut mengenainya (membasahinya).” (Hasan, riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.

 



-- Agung Cahyadi, MA