Jika Diselingkuhi Suami, Harus Cerai Atau Bertahan?

Pernikahan & Keluarga, 9 September 2023

Pertanyaan:

Assalamualaikum. Ijin bertanya ustdz/ustadzah. Saya baru menikah 3 bulan, dan sebelumnya kami sudah berpacaran selama 2 tahun. Selama ini kami LDR karena saya kerja di daerah pedalaman sebagai nakes. Pada suatu hari saat saya pulang ke rumah, saya melihat isi hapenya ada chat mesra suami saya dengan wanita dengan panggilan sayang, dan wanita nya tidak hanya 1, ada 4. Dari chat tersebut, ada wanita yg pernah ditemuinya, namun saya tidak tahu apa yg mereka lakukan saat ketemuan. Saat saya tanyakan suami saya, dia tidak mengaku dan malah balik marah ke saya serta mengungkit-ngungkit masalah sepele di masa lalu. Selain itu, setelah menikah saya baru tahu kalau suami saya sholat nya masih bolong-bolong, tidak 5 waktu. Dan pernah ada moment saat saya tegur untuk sholat subuh, dia marah dan bicara bahwa dia sudah dewasa dan tau amalan2 apa yg dia perbuat. Setelah tau dia selingkuh, saya tunggu itikad baiknya untuk menjelaskan dan berharap agak dia memperbaiki diri, namun dia tetap tidak mengakui kesalahannya. Akhirnya saya cerita ke mertua saya, dan mertua menegurnya, namun tetap masih sama. Akhirnya saya pulang ke rumah orang tua saya menceritakan semuanya. Kemudian saya hubungi suami saya untuk datang ke rumah saya menjelaskan semuanya. Namun, sampai sekarang sudah 2 minggu dia tetap tidak membalas chat saya, tidak mau angkat telepon saya. Apa yg harus saya lakukan ustadz/ustadzah? Apakah dengan perlakuannya seperti ini menandakan bahwa saya boleh meminta cerai dengannya? Karena saya tidak melihat sama sekali tujuannya menikah untuk ibadah. Terimakasih, Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu.



-- Ida (Sintang)

Jawaban:

Wa alaiku salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Seorang isteri tidak diperbolehkan melakukan gugatan cerai tanpa adanya alasan yang mendesak. Dimana alasan itu membuat isteri tidak bisa menunaikan hukum Allah yang dibebankan kepadanya dalam urusan keluarganya. Rasulullah saw bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ.

Wanita mana saja yang minta cerai dari suaminya tanpa adanya alasan (kondisi yang mendesak), maka ia tidak akan mencium bau wanginya Surga (HR. Ibnu majah, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Imam Ibnu Qudamah telah menyebutkan kaidah untuk mengukur kondisi mendesak yang membolehkan wanita melakukan gugatan cerai/khulu’. Beliau mengatakan:

وجمله الأمر أن المرأة إذا كرهت زوجها لخلقه أو خلقه أو دينه أو كبره أو ضعفه أو نحو ذلك وخشيت أن لا تؤدي  حق الله في طاعته جاز لها أن تخالعه بعوض تفتدي به نفسها  منه

“Kesimpulan masalah ini, bahwa seorang wanita, jika membenci suaminya karena akhlaknya atau karena fisiknya atau karena agamanya, atau karena usianya yang sudah tua, atau karena dia lemah, atau alasan yang semisalnya, sementara dia khawatir tidak bisa menunaikan hak Allah dalam mentaati sang suami, maka boleh baginya untuk meminta khulu’ (gugat cerai) kepada suaminya dengan memberikan biaya/ganti untuk melepaskan dirinya.” (al-Mughni, 7:323)

Dalam Kompilasi Hukum Islam diuraikan alasan-alasan gugatan cerai: Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan berikut :

  1. salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.
  5. salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri;
  6. antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;
  7. Suami melanggar taklik talak;
  8. peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.(Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam,  Jo.Pasal  19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975)

Memperhatikan penjelasan diatas,kami memandang bahwa anda diperbolehkan melakukan gugatan cerai. Wallahu a’lam bishowab (as)



-- Amin Syukroni, Lc