Keputihan

Thaharah, 9 Maret 2024

Pertanyaan:

Assalamualaikum 

Ustad mau bertanya, apakah keputihan itu najis?istri saya keputihan, takut kalau najis, najisnya keputihan takut nya tembus celana sampai kena kasur dengan bantal, baik juga kursi di saat dia duduk. apa kepuituhab itu najis?soalnya perutnya keram dan sakit saat keluar keputihan, ada ulama berpendapat kalau keputihan yang keluar di saat perutnya sakit, berarti itu cairan yang paling dalam rahim, dan saya pernah dengar bahwa keputihan keluar dari dalam lubang yang sudah tak bisa di jangkau maaf kemaluan suaminya, di hukumi najis, dan jika keputihan yang keluar di tengah itu di hukumi suci, istri saya jadi bingung, takutnya najis, kadang keluar keputihan dan tembus celana dia tidak mencucinya, para ulama berbeda pendapat keputihan najis, dan ad juga bilang tidak. mohon penjelasannya ustad



-- Usman (Manado )

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Benar, para ulama berbeda pendapat tentang hukum keputihan, apakah najis atau tidak najis ?

1). Keputihan itu najis.

Ini pendapat Abu Yusuf dan Muhammad al-Hasan dari Hanafiyah, dan madzhab Malikiyah, dan asy-Syairazi pengarang kitab (al-Muhadzab dan at-Tanbih), al-Bandaniji dari madzhab Syafi’i, al-Qodhi Abu Ya’la, dari madzhab Hanbali, dan beberapa ulama lainnya.

Berkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (2/570) :

رطوبة الفرج ماء أبيض متردد بين المذي والعرق فلهذا اختلف فيها ثم إن المصنف رحمه الله رجح هنا وفي التنبيه النجاسة ورجحه أيضا البندنيجي

“Rhutubatu al-Farji (Keputihan yang keluar dari kemaluan) bentuknya seperti cairan putih, diperselisihkan statusnya, apakah disamakan dengan madzi atau al-‘Irq (semacam keringat). Karena itu, para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Kemudian, penulis (asy-Syairazi) dalam kitab ini (al-Muhadzab) dan kitab at-Tanbih, cenderung berpendapat bahwa keputihan hukumnya najis. Pendapat ini dipilih juga al-Bandaniji.“

2). Keputihan itu suci.
 
Ini pendapat Ulama Hanafiyah, dan pendapat yang benar dari madzhab Syafi’i yang dikuatkan oleh al-Baghawi, ar-Rafi’i dan an-Nawawi, dan pendapat yang benar dari madzhab Hanbali yang dikuatkan oleh al-Mardawai dan Ibnu Qudama

Berkata an-Nawawi di dalam al-Majmu’ (2/570) :

وقال البغوي والرافعي وغيرهما الأصح الطهارة، وقال صاحب الحاوي في باب ما يوجب الغسل نص الشافعي رحمه الله في بعض كتبه على طهارة رطوبة الفرج

“Sementara al-Baghawi dan ar-Rafi’i serta yang lainnya berpendapat bahwa menurut pendapat yang benar keputihan adalah suci.Penulis kitab al-Hawi di dalam bab : Hal-hal yang mewajibkan mandi junub, berkata, “Imam as-Syafi’i telah menegaskan dalam sebagian kitabnya bahwa keputihan wanita statusnya suci.”

Dali dalil dali tersebut, kami cenderung untuk memilih pendapat bahwa keputihan itu suci, karena pada dasarnya segala sesuatu itu suci, sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa hal itu najis, dan Keputihan adalah sesuatu yang sering dialami kaum wanita, jika hal itu dianggap najis, maka akan menyusahkan mereka. Ini sesuai dengan Kaidah Fiqh : المشقة تجلب التيسير (Kepayahan itu menyebabkan adanya kemudahan)

Alasan lain bahwa keputihan banyak menimpa kaum wanita, tetapi tidak ada satu riwayat pun dari hadits yang menjelaskannya. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat pada zaman nabi tidak menganggap keputihan ini adalah sesuatu yang perlu dirisaukan dan tidak pula menganggapnya najis.

Dari keterangan di atas, bisa disimpulkan bahwa keputihan hukumnya suci in syaa Allah, sebagaimana pendapat mayoritas ulama. Wallahu A’lam

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA