Lebaran 2024

Lain-lain, 20 Maret 2024

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad..
saya mau bertanya.. saya tinggal bersebelahan dengan mertua saya..saya dan suami saya awalnya punya kesepakatan lebaran tiap tahunnya bergantian jika tahun ini di rumah mertua maka tahun depan dirumah orang tua saya.
pada tahun 2020 ayah saya meninggal dunia jadi ibu saya tinggal sendiri dirumah jadi kesepakatan awal saya dan suami saya ingin saya rubah saya ingin tiap lebaran pulang kerumah orang tua saya karena saya kasian sama ibu saya kesepian kalau saya tidak pulang dan kesempatan saya buat ketemu ibu saya juga agak susah karna saya juga bekerja jadi karena cuti lebaran panjang di tahun 2024 ini saya mau pulang ke rumah ibu saya dan lebaran disana. apakah salah ustad?karna menurut saya selama puasa dan tiap hari saya juga ketemu mertua saya...apakah dosa bagi suami saya jika suami melarang saya pulang tolong jawabnya ya ustad. terima kasih
wassalamualaikum...



-- Rani (Medan)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Dulu anda dan suami membuat kesepakatan berlebaran secara bergantian di rumah ibu dan mertua dengan tujuan kebaikan dan berbakti kepada kedua orangtua di momen hari raya, memberikan kegembiraan di momen istimewa itu. Karena anda dan suami berfikir bahwa, membagi tempat berlebaran secara bergantian adalah cara terbaik untuk berbakti kepada orang tua masing-masing. Cara bersikap adil kepada kedua orangtua. Dan hal itu sudah anda lakukan bertahun-tahun.

Jika ada kemaslahatan yang lebih besar,tetapi terhalang oleh kesepakatan,maka kesepakatan itu bisa dirubah dengan membuat kesepakatan baru. Caranya yaitu dengan memusyawarahkan kembali,sampai terjadi kesepakatan baru. Karena itu musyawarahkan keinginan anda itu dengan suami. Karena musyawarah dan mencari solusi adalah perkara yang dianjurkan. Allah swt berfirman:

وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۚ ۝٣٨

(juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS. Assyura:38)

Semoga dengan kesepakatan baru, akan mendatangkan kebaikan lebih banyak dari sebelumnya. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc