Pertanyaan:
Assalamualaikum,
Bagaimana menghadapi suami saya yang ketika marah selalu mendiamkan saya selama berhari hari bahkan berminggu Minggu, dalam 5 tahun pernikahan setiap marah selalu saya yang minta maaf dan ketika saya meminta maaf suami tidak pernah merasa salah dan malah terus menyalahkan saya. Hal ini sering terjadi hampir setiap 3-4 bulan selalu ada saja hal yang membuat suami marah yang menurut saya tidak seharusnya hal seperti ini saja dibuat marah.
--
Bunana (Malang)
Jawaban:
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Seorang istri yang menghadapi pasangan yang suka mendiamkan pasangannya saat marah pasti sangat tidak nyaman. Karena dia tidak mengerti harus berbuat apa agar suasana hati sauminya segera mencair. Karena suami hanya diam tidak berkata-kata apapun,itulah yang menjadi sebab komunikasi tersumbat dan buntu.
Ada beberapa saran yang bisa dicoba oleh istri untuk menyelesaikan masalah tersebut. Antara lain:
- Kenali lebih mendalam karakter dan kepribadian suami. Kapan mudah marah, kapan bisa menjaga emosinya. Dengan demikian istri bisa bersikap dengan sikap yang tepat, menghindari hal yang membuat suaminya marah.
- Istri perlu mengenali sikap suami itu, apakah sikap itu dilakukan kepada semua orang atau hanya kepada istrinya saja. jika sikap itu adalah sikap kepada semua orang, berarti sikap itu adalah karakternya yang tidak mudah untuk diubah. Jika sikap itu hanya dilakukan kepada istrinya saja, maka sikap itu lebih mudah untuk diubah. Jika sikap itu adalah karakternya, maka sikapilah sikap itu dengan wajar dan penuh dengan pemakluman dan sabar. Disikapi wajar karena itulah karakter bawaan yang tidak mudah dirubah. Perlu sabar karena membutuhkan waktu panjag dan ketabahan hati untuk menghadapinya.
Dan jika sikap itu hanya dilakukan kepada istrinya saja, maka yang dibutuhkan adalah sabar berproses menjalani adaptasi sampai kondisi bisa saling memahami satu sama lain.
- Tidak sedikit seorang laki-laki/suami mengambil sikap diam jika dia tidak menyukai sesuatu. Tidak pandai bicara untuk mengungkapkan isi hati dan isi kepalanya. Dia memilih diam untuk menyelesaiakan sendiri masalah yang dihadapi. Terkadang sikap diam itu dia ambil, karena tidak tahu harus berkata apa untuk menyampaikan perasaannya. Hal ini berbeda dengan perempuan/istri, dimana dia lebih bisa berbicara dan menyampaikan perasaannya dan isi hatinya. Laki-laki dan perempuan memang berbeda. Sikap yang tepat adalah berupaya saling mengenali karakter masing-masing, karena perbedaan itu wajar.
- Membicarakan bersama kejadian yang telah berlalu untuk menjadi evaluasi bersama dan mengambil pelajaran bersama adalah sikap yang bijaksana. Hal itu bisa dilakukan disaat santai dan dalam suasana damai. Di tempat dan waktu yang nyaman. Sehingga saumi dan istri bisa mengungkapkan isi hatinya dengan nyaman dan terbuka.
Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. wallahu a’lam bishowab. (as)
--
Amin Syukroni, Lc