Jawaban:
Wa'alaikumussalaam wrwb.
Perasaan anda yang sering ingin murtad, diikuti keraguan yang disengaja terhadap Allah, dan kemudian penyesalan yang mendalam setelahnya adalah situasi yang kompleks dan menyakitkan. Berikut adalah beberapa poin penting untuk membantu anda memahaminya:
Dalam Islam, ada perbedaan besar antara godaan (was-was) dari setan dan niat sadar (azm) untuk keluar dari agama.
- Was-was: Ini adalah bisikan, keraguan, atau pikiran paksaan yang tidak anda inginkan dan membuat anda menderita. Jika anda merasa menyesal dan bersalah setelahnya, itu menunjukkan bahwa hati nurani anda menolak pikiran-pikiran tersebut. Ini sering kali bukan murtad yang sebenarnya, melainkan cobaan iman.
- Niat Sadar: Murtad terjadi ketika seseorang dengan sengaja dan sadar memilih untuk meninggalkan Islam, tanpa paksaan, dan hatinya tenang dengan keputusan tersebut.
Fakta bahwa anda merasa menyesal dan bersalah adalah bukti kuat bahwa iman masih ada di hati anda. Perasaan itu justru tanda penolakan batin terhadap pikiran murtad, bukan penerimaan.
Penyesalan yang anda rasakan setelah melakukan hal-hal yang "membuat murtad dalam diri" menunjukkan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan keyakinan asli anda. Para ulama mengajarkan bahwa orang yang menyesali keraguannya tidak dianggap murtad.
Meskipun anda melakukannya dengan "sengaja agar saya murtad", niat tersebut muncul dari keinginan sesaat yang didorong oleh godaan, bukan keputusan bulat dari hati. Ketika niat tersebut hilang dan digantikan penyesalan, status iman kembali.
Secara umum, perasaan anda tidak serta merta membuat anda murtad, karena adanya penyesalan yang tulus.
Untuk menenangkan hati dan menegaskan kembali keimanan, anda bisa mengulang pengucapan dua kalimat syahadat (Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah) dengan penuh keyakinan di dalam hati. Ini akan menghapus keraguan.
Perasaan ingin murtad yang berulang, keraguan yang disengaja, dan penyesalan yang mendalam bisa menjadi tanda adanya tekanan psikologis atau masalah kesehatan mental (seperti obsessive-compulsive disorder atau OCD religius, di mana pikiran-pikiran yang mengganggu iman muncul berulang kali). Pertimbangkan untuk berbicara dengan psikolog atau psikiater yang memahami konteks spiritual dapat membantu mengelola pikiran-pikiran ini.
Hindari menonton video atau membaca konten yang memicu keraguan anda untuk sementara waktu. Fokus pada konten positif yang menguatkan iman.
Sangat penting untuk mencari nasihat langsung dari ulama, atau penasihat spiritual yang terpercaya yang dapat mendengarkan cerita anda lebih lengkap dan memberikan bimbingan sesuai ajaran agama secara langsung.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA