Menceritakan Mimpi

Aqidah, 19 Januari 2026

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Ustadz,

Sekitar 4 tahun lalu saya bermimpi kalau ayah saya dapat serangan jantung. Di dalam mimpi seolah-olah 50 hari kedepan. Setelah dapat mimpi tersebut, saya langsung ceritakan kepada ayah saya. Qadarullah ayah saya ingat cek jantung sebelum hari ke-50 setelah mimpi tersebut, dan Alhamdulillah hasilnya aman.

Pertanyaan saya: Saya pernah dengar hadits tentang kalau dapat mimpi buruk, jangan diceritakan. Tetapi mimpi tersebut tetap saya ceritakan sebagai pengingat untuk ayah saya (dan qadarullah, akhirnya beliau cek jantung). Saya ceritakan mimpi tersebut hanya sebagai latar belakang saya mengingatkan beliau untuk cek jantung. Apakah saya berdosa karena menceritakan mimpi buruk? Terima kasih sebelumnya.



-- GR (Depok)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Hadits yang anda dengar memang ada. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan, apabila seseorang mengalami mimpi buruk, hendaknya ia tidak menceritakannya kepada orang lain. Hikmah dari anjuran ini adalah untuk mencegah kekhawatiran, kesedihan, atau penafsiran negatif yang tidak perlu.

Dalam kasus anda, tujuan utama anda menceritakan mimpi tersebut bukan untuk sekadar berbagi ketakutan, melainkan sebagai sarana pengingat dan motivasi agar ayah anda lebih memperhatikan kesehatan. Tindakan anda didasari oleh husnuzhon (prasangka baik) dan kepedulian yang qadarullah, membawa hasil positif dengan mendorong ayah anda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Niat yang baik untuk kemaslahatan (kesehatan ayah anda) dan hasil yang bermanfaat menunjukkan bahwa tindakan anda berada dalam ranah yang dibolehkan, bahkan terpuji dalam konteks siyasah syar'iyyah (kebijakan berdasarkan syariat) yang melihat manfaat dan mudarat.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA