Pertanyaan:
Assalamu'alaikum ustadz,
Ini bukan pengalaman saya, tapi sering dengar kisah-kisah serupa. Misalkan saya dapat mimpi teman kecelakaan saat bawa motor, meninggal dunia ditabrak mobil berwarna biru. Dan beberapa hari kemudian, latar belakang mimpi tersebut mulai terjadi di kehidupan nyata, dan saya mulai mengingatkan teman saya, "jangan bawa motor dulu". Dan tidak lama kemudian lewat mobil berwarna biru yang persis seperti pada mimpi.
Pertanyaan, apakah hal tersebut termasuk mencoba mengubah takdir (dalam hal ini, ajal)? Apakah syirik dan harus bersyahadat kembali? Atau apakah mimpi tersebut bisa dikatakan sebagai ru'ya shaliha?
Saya tidak meyakini, "kalau saya tidak ingatkan teman saya, dia akan tewas". Saya masih percaya, "memang masih belum ajalnya". Tapi takut terjatuh dalam ranah syirik.
Terima kasih sebelumnya.
--
GR (Depok)
Jawaban:
Wa'alaiakumussalaam wrwb.
Mengambil tindakan pencegahan seperti mengingatkan teman anda untuk tidak mengendarai motor setelah mengalami mimpi bukanlah tindakan mengubah takdir.
Dalam Islam, takdir (qadha dan qadar) adalah ketetapan Allah yang pasti terjadi, baik yang sudah terjadi maupun yang akan datang. Namun, manusia diberikan akal dan pilihan untuk berusaha dan berdoa (ikhtiar dan doa), yang merupakan bagian dari takdir itu sendiri.
Mengingatkan teman adalah bentuk ikhtiar atau usaha untuk menghindari bahaya. Hal ini dianjurkan dalam Islam, seperti halnya berhati-hati saat menyeberang jalan, menggunakan sabuk pengaman, atau memeriksakan diri ke dokter saat sakit. Tindakan ini tidak bertentangan dengan iman pada takdir; sebaliknya, itu adalah bagian dari menjalankan kehidupan dengan bijak sesuai petunjuk agama. Anda tidak memaksa kehendak anda pada takdir, melainkan menggunakan pengetahuan (dalam hal ini dari mimpi) sebagai isyarat untuk berhati-hati.
Tindakan anda mengingatkan teman tidak termasuk syirik. Syirik adalah menyekutukan Allah atau meyakini ada kekuatan lain selain Allah yang bisa menentukan nasib atau mendatangkan manfaat/mudarat secara mutlak.
Anda secara eksplisit menyatakan: "Saya tidak meyakini, 'kalau saya tidak ingatkan teman saya, dia akan tewas'. Saya masih percaya, 'memang masih belum ajalnya'." Keyakinan ini menunjukkan bahwa anda tidak meyakini bahwa tindakan anda yang menentukan hidup mati teman anda, melainkan tetap meyakini bahwa ajal sepenuhnya berada di tangan Allah, Ini adalah akidah yang benar.
Ketakutan anda akan syirik adalah pertanda keimanan. Selama anda meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak Allah, dan tindakan anda hanyalah sebuah usaha, maka anda tidak terjatuh dalam ranah syirik. Anda tidak perlu bersyahadat kembali karena keyakinan dasar anda tentang ketuhanan tidak goyah.
Ru'ya shaliha (mimpi yang baik atau benar) adalah mimpi yang datang dari Allah, seringkali berisi petunjuk, kabar gembira, atau peringatan. Mimpi seperti yang anda alami, yang memberikan petunjuk yang kemudian terbukti memiliki kemiripan dengan kejadian nyata (mobil biru lewat), bisa jadi merupakan ru'ya shaliha atau isyarat dari Allah untuk mengambil langkah pencegahan
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamui 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA