Hukum Pacaran, Zina, Dan Nikah

Pernikahan & Keluarga, 24 Juni 2009

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustad, saya mau tanya tentang masalah pacaran, zina dan nikah.

Orang yang pacaran umumnya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Meskipun mereka ini tidak sampai berzina dengan “masuknya timba ke dalam lubang sumur”, tetapi sudah saling memeluk, mencium, meraba dan merangsang organ masing-masing.

Yang saya tanyakan adalah, bagaimana hukumnya laki-laki & perempuan yang telah melakukan hal-hal tersebut berkaitan dengan pernikahan? Apakah mereka WAJIB menikah atau malah HARAM menikah?

Jika dikaitkan dengan psikologis, tentu saja mereka HARUS segera menikah. Tetapi saya pernah mendengar kaidah “apa-apa yang belum waktunya, diharamkan”. Dalam hal ini meskipun mereka saling mencintai, tetapi karena telah melakukan hal-hal yang belum waktunya halal dilakukan, justru HARAM menikah. Point-nya adalah mereka tidak “memasukkan timba ke dalam sumur”, tetapi sudah melakukan zina mata, hati, tangan, kaki, dll.

Mohon penjelasan rincinya Ustad. Terimakasih.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

-- Abdul (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr wb.

Yang diharamkan oleh Islam bukan hanya berzina, bahkan mendekati zina saja, sudah diharamkan; bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahrom haram hukumnya, berdasarkan hadits shahih yang artinya : " Jika kepala seseorang diantara kalian dipaku dengan paku besi, itu akan lebih baik baginya, dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya", bahkan memandang lawan jenis dengan pandangan syahwat juga diharamkan (QS. 24 : 30-31).

Berdasarkan hal tersebut, maka berpacaran sebagaimana yang Anda sebutkan adalah perbuatan dosa yang  pelakunya harus segera bertaubat kepada Allah.

Dan tidak ada ketentuan hukum perihal wajib atau haramnya menikah bagi kedua orang yang telah melakukan perbuatan tersebut. Yang pasti wajib adalah, bahwa kedua orang tersebut harus segera meninggalkan perbuatan dosanya dan segera bertaubat kepada Allah.

Dan apabila setelah bertaubat, keduanya siap untuk menikah, maka seyogyanya segera mencari calon "yang baik agama dan akhlaqnya" untuk kemudian segera diproses menuju pernikahan yang sah dengan tidak lagi melalui proses berpacaran. Dan calon yang dimaksud, bisa saja seseorang yang belum dikenal sebelumnya atau orang yang sudah dikenal, termasuk laki-laki/wanita yang sebelumnya telah ada hubungan dengannya tersebut.

Wallahu a'lam bishshawab, semoga Allah berkenan untuk membimbing kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya.

Wassalamu 'alaikum wr wb.



-- Agung Cahyadi, MA