Orangtua Atau Kebahagiaanku?

Pernikahan & Keluarga, 13 Januari 2010

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum.
Aku adalah gadis 20 tahun sekarang aku duduk di bangku kuliah. Tolang bantu aku, Ustad. Aku benar-benar binggung. Aku punya pacar yang usianya 25 tahun. Saat ini dia benar-benar ingin memintaku pada orang tuaku. Jujur hasratku sendiri untuk menikah benar-benar besar. Namun aku juga masih ingin melanjutkan kuliahku karena 2 tahun lagi selesai. Orang tuaku dari awal tidak setuju dengan pacarku. Mereka tidak setuju karena pacarku lulusan SMA dan kerjanya juga di koperasi simpan pinjam. Ortuku selalu mengklaim kerjanya pacarku haram. Padahal setelah aku konsultasi dengan para tokoh agama mereka menyebut itu bukan haram. Aku juga bosan dengan keadaan rumahku yang kacau. Aku adalah anak akibat broken home, sedangkan pacarku amat bisa mengerti aku. Aku mantap dengan dia ustad. Aku harus bagaimana????? Aku amat minta tolong.

-- Silva (Surabaya)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr wb.

Semestinya Silva tidak perlu untuk mengkonfrontasikan antara kepentingan orang tua dan kepentingan Silva, sebab setiap orang tua tentu sangat berkeinginan untuk melihat anaknya berbahagia, termasuk orang tua Silva tentunya.

Untuk memilih calon, sebaiknya berhati-hati dan jangan pernah berspekulasi dan upayakan untuk tidak memutuskan sendiri. Tetapkan kriterianya lebih dahulu (yang baik agama dan akhlaqnya), kemudian komunikasikan dengan keluarga, terutama dengan kedua orang tua untuk minta masukan, agar ketika memutuskan untuk menentukan calon sudah tidak ada lagi masalah dalam keluarga besar perihal calon tersebut, hal ini penting karena berkeluarga dalam Islam dimaksudkan untuk mencari kedamaian (QS.30:21), jangan sampai di kemudian hari ada masalah dalam keluarga besar, hanya disebabkan karena salah satu anggota keluarga tidak setuju dengan dengan calon.

Perihal "koperasi simpan pinjam" yang menjadi salah satu alasan orang tua untuk tidak menyetujui calon Silva, saya kira sangat wajar, karena mayoritas koperasi simpan pinjam yang ada di Indonesia masih memberlakukan sistem "RIBA" yang hukumnya haram, yaitu adanya klausul yang menyatakan : "Seorang peminjam harus mengembalikan dengan lebih besar dari nominal pinjaman ". Nah, apabila ada yang bekerja di koperasi yang demikian, hukumnya akan menjadi haram.

Untuk itu, saya sarankan agar Silva bisa berpikir jernih, dengan mengkomunikasikan kembali kepada keluarga besar perihal keinginan untuk menikah dengan laki-laki tersebut.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan dan membimbing kita semua ke jalan yang diridhoi-Nya.

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wr wb.

-- Agung Cahyadi, MA