Kalimat Ijab Wali

Pernikahan & Keluarga, 1 Desember 2010

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahatullahi wabarakatuh

Pengasuh yang saya hormati,
sebelum bertanya, saya ingin memaparkan kronologisnya terebih dahulu.
1. Ada seorang ibu (misalnya Siti) yang ingin menikahkan seorang putrinya, sedangkan bapak kandungnya (suami ibu Siti) telah meninggal dan silsilah wali nikahnya putus nasab.
2. Ibu ini mempunyai suami yang kedua, yang sangat sayang pada putrinya, kedaan suaminya sedang sakit keras dan sangat ingin disegerahkan dan ingin menyaksikan pernikahannya.
3. Bapak tiri ini (katakanlah Bapak Adi) ingin ketika ijab qobul nanti si anak disebutkan binti Adi (dinasabkan kepadanya)
4. Ibu Siti ingin supaya keinginan Pak Adi dipenuhi agar menjaga keadaan suaminya tidak sock demi menjaga hal yang tidak diinginkan.
5. Pihak-pihak yang telah mengetahui, bahwa si gadis ini adalah anak tiri, yaitu ibu siti, pak adi dan calon suami serta keluarganya.

Pertanyaanya:
1. Apakah boleh saya selaku petugas yang menerima wakil dari Bapak Adi untuk menikahkan anaknya, menggunakan ijab yang menyebutkan "....binti Bapak Adi" (bukan bpk kandungnya)?
2. Saya mengambil keputusan, demi menjaga kemaslahatan dan membuang kemudharatan, ketika ijab saya sebutkan "...binti Bpk Adi" tetapi didalam hati saya saya menyebutkan nama bpk kandungnya (tertuju kepada bapak nasabnya). Begitu juga dengan calon suaminya ketika mengucapkan qobulnya.
3. Sebelum akad dimulai, saya sepakati dahulu ijab qabul diatas dengan para saksi dan calon suaminya.
4. Apakah keputusan saya diatas tidak bertentangan dengan syariat islam?

Mohon kepada pengasuh memberi masukan dan saran terhadap keputusan saya (beserta referensinya) agar menjadi pedoman saya.

Terima kasih.

-- Ahmad (Bekasi)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam warohamatullahi wabarakatuh

Bapak Ahmad yang dimuliakan Allah,

Agama kita Islam melarang dan mengharamkan kita untuk menisbatkan seseorang kepada selain bapak kandungnya. Hal tersebut ditegaskan Allah dalam AlQur'an surat ke-33 (Al Ahzab) ayat ke 4 dan 5 ( silahkan bapak membacanya dan kalau berkenan sekaligus silahkan baca tafsirnya di buku-buku tafsir para ulama').

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka seyogyanya bapak - sebagai wali hakim - tidak menikahkan anak tersebut, kecuali dengan menyebutkan "Fulanah binti bapak kandungnya". agar nikahnya barokah dan agar bapak mendapatkan pahala dari Allah, karena telah menaati aturan-Nya yang telah diabadikan dalam Al Qur'an.

Dan akan lebih baik tentunya, kalau bapak berkenan  mengkomunikasikan - dengan cara yang hikmah - ketentuan Allah tersebut kepada kedua keluarga besar dan terutama kepada keluarga calon mempelai putri.

Demikian, semoga Allah berkenan memberikan kemudahan dan ridho-Nya.

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu'alaikum wrwb.

-- Agung Cahyadi, MA