Masih Sahkah Pernikahan Orangtuaku?

Pernikahan & Keluarga, 15 Desember 2010

Pertanyaan:

Saya seorang mahasiswa yg sudah mau semester akhir, mempunyai orang tua yang masih lengkap. Tapi masalahnya dsini, kedua org tua saya sudah tidak akur sejak saya masih SMP. Hanya karena saya dan adik-adik saya lah sampai sekarang mereka masih bersatu. Tapi dalam beberapa tahun ini sudah tidak ada lagi keharmonisan sama sekali. Yang ada hanyalah persaingan diantara mereka. Ibuku sudah tidak pernah mau lagi melayani bapakku sebagai suami(menyiapkan minum makan dsb) begitu juga bapakku tidak pernah lagi memberikan penghasilannya kepada ibu. Mereka hidup masing-masing dengan penghasilan mereka masing-masing walaupun masih satu rumah. Kami sebagai anak-anaknya bingung harus bersikap seperti apa.
Yang ingin saya tanyakan apakah masih sah pernikahan orang tua saya setelah hal tersebut berlangsung bertahun-tahun lamanya?

-- Titinot (Riau)

Jawaban:

Assalamu 'alaikum wr wb.

Pernikahan dalam Islam dimaksudkan untuk mencari kedamaian, karena hanya dengan tercapainya suasana damai  itu sajalah, suami istri dapat mengatur rumah tangganya dengan baik, termasuk hanya dengan suasana damai sajalah kedua orang akan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik.

Ketika suasana damai tersebut belum tercapai, maka harus diupayakan untuk bisa dicapai, Dan kuncinya adA dalam kalimat " KOMUNIKASI DAN SALING MEMAHAMI ".

Oleh karena itu, akan lebih baik dalam kondisi kedua orang tua sedang tidak akur/damai, kalau anak-anak juga berupaya optimal (termasuk bisa meminta bantuan kepada fihak ketiga/keluarga besar, tokoh masyarakat, kyai dll) untuk bisa terbangunnya "komunikasi dan saling memahami" antara kedua orang tua. Semoga Allah berkenan memberikan kemudahan dan ridho-Nya.

Adapun ketidak akuran, ketidak harmonisan dan perseteruan serta tidak terlaksanakannya kewajiban masing-masing (suami istri), bukanlah menjadi sebab terputusnya ikatan pernikahan. Terputusnya ikatan pernikahan hanya akan terjadi ketika keluar kata thalaq/cerai dari suami yang ditujukan kepada istri, atau murtadnya salah satu pasangan (suami atau istri ).

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wr wb.

-- Agung Cahyadi, MA