Apakah Sah Bercerai?

Pernikahan & Keluarga, 30 Desember 2010

Pertanyaan:

Assalammualaikum wr. wb.

Saya pria 31 thn, dan telah menjalani pernikahan selama 5 thn. Suatu ketika istri saya meminta saya untuk mengembalikan dia pada orangtuanya dengan alasan bahwa kami tak cocok lagi karena selalu saja terjadi pertengkaran karena keegoisan masing-masing. Sebelumnya ketika marah saya sempat mengumpat kata talak tiga. Apakah sah talak saya terhadap istri? (saya belum pernah mengucap talak sebelumnya)
Dan di kemudian hari terjadi pertengkaran lebih hebat hingga akhirnya permintaan istri untuk dikembalikan pada orangtuanya saya kabulkan. Apakah dengan begitu sah percerain kami? Kami telah pisah ranjang selama sebulan.

Apakah status pernikahan kami yang seperti ini menurut hukum islam? Sesungguhnya saya menyesali atas apa yang terjadi, dan saya berharap dapat kembali hidup bersama istri saya.



-- Syukron Komaruddin (Bekasi)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr. wb.

1. Kata " thalaq" kalau sudah keluar dari mulut seorang suami dan ditujukan kepada istrinya yang sah, maka telah jatuh thalaq

Dan oleh karena saudara Syukron telah mengucapkan kata " thalaq ",  semenjak kata tersebut anda ucapkan, maka berarti telah jatuk thalak I. Adapaun ucapan anda dengan kata " thalaq tiga " pada saat anda menthalaq istri, termasuk kalimat yang diharamkan dalam thalaq, tetapi insya Allah menurut pendapat sebagian ulama' jatuh thalak satu.

2. Adapun permintaan istri, agar anda mengembalikannya ke orang tuanya dan andapun mengabulkan permintaanya tersebut, maka hukumnya akan tergantung niat anda ketika anda memenuhi permintaan istri tersebut. Apabila niat anda saat itu cerai, maka akan jatuh, tetapi apabila dengan tidak berniat menceraikan, maka tidak jatuh cerai.

Dan thalaq I dan II, disebut dengan thalaq roj'i, yaitu thalaq yang masih memungkinkan seorang suami untuk meruju' istrinya. Apabila ruju'nya dilakukan dalam masa iddah (sebelum berlalu 3 X haidh semenjak jatuhnya thalaq ), maka tidak perlu ada akad baru, tetapi cukup dengan mengucapkan ruju'. Tetapi apabila ruju'nya dilakukan setelah habis masa iddah, maka harus ada akad baru (ada wali, 2 saksi, ijab dan qabul dan mahar).

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wr wb

-- Agung Cahyadi, MA