Masalah Keuangan Dan Cerai

Pernikahan & Keluarga, 26 Februari 2011

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.
Saya wanita, nikah 5 bulan. Ada pertengkaran dalam rumah tangga kami. Kadang besar kadang kecil. Beberapa hal yang sering menjadi perdebatan kami adalah :

1. Gaji suami : sebagian diberikan ke saya untuk belanja, namun, sebagian lagi tidak diberitahukan ke saya, tetapi saya hanya sebatas ingin tahu, tetapi bukan melarang, apalagi jika itu diberika ke ibunya, saya berharap, biar dititipkan kepada saya yang memberikannya.

2. Kepercayaan : ayah suami punya istri muda lagi, membuat saya khawatir suami seperti itu, sehingga jika suami hendak pulang telat, saya jadinya ketakutan, dan pertanyaan-pertanyaan banyak saya berikan kepada suami, hanya ingin meyakinkan diri saya kalau suami benar2 kerja dan pulang telat tidak ada hal lain.

Jadi, kami biasanya berdebat, tengkar, masalahnya itu-itu saja.. tidak pernah tuntas.
sampai satu waktu, sempat suami mau pergi dan meninggalkan saya, trus, saya minta dia nulis surat pernyataan cerai. suami menulis tapi katanya terpaksa. akhirnya ga jadi pergi dan surat itu dibuang. dan kami baikan lagi.

Namun, kemarin, ada terjadi hal yang karena kekurang percayaan saya, dan suami benar-benar pergi dari rumah dan berkehendak menceraikan saya. keesokan harinya, saya ke rumah ibu suami untuk bertemu suami. suami bulat tekad untuk pisah, saya memohon maaf dan memohon diberikan kesempatan untuk kembali bersama, suami tetap tidak mau. suami mengeluarkan unek-uneknya, yang ternyata hanya hal kacil menurut saya, tetapi menjadi besar (contoh : saya pernah mengatakan dalam kondisi menakut-nakuti, saat ada suara ketokan pintu, yang ternyata tidak ada orangnya, dan saya katakan "yang ngetok-ngetok pintu itu setan", kemudian suami menyimpulkan sampai ke ibu atau keluarganya adalah setan, karena mereka juga ketok pintu...)

Yang ingin saya tanyakan :
1. seberapa pantas dan apakah berhak mengetahui gaji suami dipakai apa saja?
2. pemberian kepada ibu suami seperti apa, jikalau kita sendiri masih sempit sekali keuangan?
3. jika memberi uang ke ibu suami, boleh melalui istri tidak?
4. sah nya cerai itu seperti apa?
5. bisa kah kembali lagi menjadi suami istri?
6. jika benar cerai, apa yang harus saya lakukan.
7. saya juga sedang telat haid 5 hari.

Mohon bantu saya, mohon maaf sebelumnya dan terimakasih..



-- Timmy (Bekasi)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wrwb.

Pernikahan dalam Islam dimaksudkan untuk mendapatkan "kedamaian" (QS.30:21), karena hanya dengan suasana damailah suami dan istri akan akan bisa mengelola rumahtangganya dengan baik, dan tanpa suasana tersebut, sulit untuk dibayangkan  bagaimana suami dan istri akan dapat untuk mengelola rumah tangganya.

Sedangkan kunci untuk mendapatkan suasana damai itu ada pada kalimat  "komunikasi dan saling memahami". Karenanya upayakan untuk membangun komunikasi yang baik dengan suami dan upayakan untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri dengan berupaya optimal memberikan pelayanan yang terbaik untuk suami dan menciptakan suasana yang bisa membuat suami damai, meskipun harus sedikit mengalah dan bersabar saat mendapakan suami belum optimal untuk memberikan hak-hak ibu.

Adapun yang berkaitan pertanyaan-pertanyaan ibu, maka jawaban saya adalah sebagai berikut :

 1. Boleh saja seorang istri untuk mengetahui penghasilan suaminya, tetapi itu bukan suatu keharusan, dan karenanya tidak boleh memaksa, apalagi kalau suami tidak berkenan, karena tidak ada kewajiban bagi seorang suami  untuk memberitahukan penghasilannya kepada istrinya. Dalam kaitan ini kewajiban suami hanya memberikan nafkah yang cukup sesuai dengan kemampuan.

2. Seorang ibu adalah tanggung jawab anaknya, demikian pula  seorang istri adalah tanggung jawab suaminya. Itulah yang semestinya difahami oleh seorang ibu dan seorang istri.

3. Perihal bagaimana teknis pemberian uang kepada ibu mertua, maka komunikasikan hal tersebut kepada suami, tetapi kalau suami tetap ingin memberikan langsung kepada ibunya, sebaiknya anda tidak memaksakan.

4. Ketika kata "cerai/thalak" itu sudah diucapkan/dituliskan oleh seorang suami dan ditujukan kepada istrinya, maka semenjak itu telah jatuh thalaq satu, dan apabila masih dalam masa iddah ( sebelum berlalu 3 X haidh ), maka kalau ruju' tidak perlu ada akad baru, cukup disepakati ruju'.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan solusi terbaik dan ridho-Nya.

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wrwb.

-- Agung Cahyadi, MA