Cara Menebus Dosa Zina

Akhlaq, 8 Juni 2011

Pertanyaan:

Bagaimana cara-cara menebus dosa zina. Tolong saya, saya harus bagaimana. Saya mau stres mikir semua ini.

-- Amri (Metro)

Jawaban:

Jawab :

Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillah, amma ba’du:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Setiap anak Adam (manusia) adalah pembuat banyak kesalahan dan dosa, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah dan dosa adalah yang mau bertobat” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Jadi terjadinya kesalahan, kekhilafan dan kemaksiatan dalam kehidupan dan diri manusia, adalah hal yang wajar dan normal. Karena itu memang sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tabiat dasar diri manusia, sebagaimana yang telah dinyatakan sendiri oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau tadi. Meskipun bentuk, macam dan tingkat kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh para manusia tentu saja berbeda-beda. Ada yang ringan, ada yang sedang dan ada yang berat. Sebagaimana ada yang sedikit, ada yang banyak, dan ada yang banyak sekali. Semua itu bisa terjadi dan berlaku pada diri siapa saja, kecuali diri para nabi dan rasul ‘alaihimus-salaam yang memang ma’shum (terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa, khususnya dosa besar).

Namun yang terpenting adalah bahwa, perbuatan dosa atau masa lalu yang kelam penuh noda itu, lalu ditutup dan diakhiri dengan taubatan nashuha (tobat yang benar, jujur dan sungguh-sungguh).

Dan jika tobat telah dilakukan dengan ikhlas dan benar sesuai dengan syarat-syaratnya, maka dosa dan kemaksiatan sebesar apapun, termasuk syirik, membunuh dan juga berzina, serta dosa-dosa yang lainnya, akan terhapus karenanya, dan bahkan lebih dari itu, sekaligus dosa-dosa itu tergantikan secara otomatis (menurut sebagian penafsiran) dengan catatan kebaikan dan pahala. Dasarnya adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat banyak, hadits-hadits yang sangat banyak dan ijma’ seluruh ulama. Sebagai cotoh, mari kita simak dan renungkan misalnya firman Allah berikut ini (yang artinya): “Dan (diantara sifat-sifat ‘ibaadur-Rahmaan) adalah mereka yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya). (Yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan (dosa-dosa mereka) diganti Allah dengan kebaikan (pahala-pahala). Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah, dengan tobat yang sebenarnya” (QS. Al-Furqaan [25]: 68-71). Jadi dalam hal tobat, dari dosa apapun, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memenuhi syarat-syaratnya sebagai berikut: ikhlas, menghentikan dosa yang diperbuat, menyesali dosa yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak mengulangi, banyak istighfar, banyak beramal shaleh, dan menyelesaikan masalah atau urusan dengan pemilik hak yang kita langgar (khusus jika pelanggaran terkait dengan hak sesama yang harus ditunaikan dan diselesaikan).

Nah, jika hidayah Allah bagi seorang pendosa telah didapat, dan taubatan nashuha-pun telah benar-benar dilakukan, maka patutlah bagi yang bersangkutan untuk berbahagia dan bergembira karena syukur kepada Allah. Karena taufiq dan hidayah Allah bagi seseorang untuk bisa benar-benar bertaubat dari dosa-dosa, adalah merupakan kenikmatan tersendiri yang tak ternilai.

Belum lagi bahwa, Allah Ta’ala Sendiri telah menyambutnya (orang yang bertobat kepada-Nya) dengan kegembiraan yang sangat istimewa dan luar biasa besarnya. Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini (yang artinya): “Sungguh Allah benar-benar lebih bergembira menyambut tobat salah seorang diantara kamu, daripada (kegembiraan yang dirasakan) seseorang yang mendapatkan kembali onta tunggangannya (kendaraannya) yang sebelumnya hilang (tak berbekas dan tak terlacak) di tengah-tengah padang pasir yang luas” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Jadi dengan demikian, orang yang telah bertaubat  dengan sebenar-benar taubat, semestinya tidak lagi risau atau gundah atau “dihantui” oleh dosa dan masa lalunya yang kelam sekelam apapun.

Demikianlah jawaban yang bisa kami berikan, semoga dipahami dan bermanfaat. Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq ilaa aqwamith-thariiq, wal Haadii ilaa sawaa-issabiil.



-- Agung Cahyadi, MA