Puasa Ramadhan

Puasa, 4 Agustus 2024

Pertanyaan:

Saat puasa bulan Ramadhan yang lalu, saya punya kebiasaan buruk yakni menonton video porno. Dan saat melakukan itu pada siang hari bulan ramadhan, saya merasakan ada yang keluar dari kemaluan saya. Saat saya cek ternyata ada cairan putih di celana dalam saya. Saya tidak tahu itu mani atau madzi. Warnanya putih, namun keluarnya sedikit (kira-kira seperti sisa kencing yang tidak tuntas).  

Saya pernah membaca artikel, bahwa memang bisa saja itu adalah cairan mani. Dan jika itu benar-benar mani, bagaimana status puasa saya? Sedangkan saya baru mengetahui bahwa air mani bisa saja keluar dengan cara seperti itu atau tanpa melakukan onani/senggama (hanya menonton konten porno saja)



-- Wildan Albani P (Sidoarjo)

Jawaban:

Assalaamu 'alaikum wrwb.

Di bulan Ramadhan setiap muslim berkewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga dan tidak melakukan hubungan istri mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ternyata ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Inilah yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita yang benar, 

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

Mengapa amalan puasa orang tersebut tidak dianggap, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?

Tertnyata ada beberapa hal yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia –semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menjauhi hal-hal ini-.

1). Berkata Dusta (az zuur)

Inilah perkataan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

2). Berkata lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata porno)

Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Kalau hanya dengan berkata kotor, berbuat sia sia, berdusta itu bisa membuat puasa kita sia sia (tidak berpahala) meskipun secara hukum fiqihnya tidak batal dan tidak wajib untuk mengqadha, apalagi kalau yang lebih dari itu semua

Kesimpulannya adalah bahwa berpuasa itu harus total, yaitu disamping tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan suami istri, juga dengan mempuasakan semua anggota badan kita (lisan, mata, telinga, tangan dan yang lainnya) dari perbuatan maksiat

Dan secara hukum fiqihnya, yang termasuk membatalkan puasa itu adalah mengeluarkan spirma dengan sengaja, kalau tidak sengaja in syaa Allah tidak membatalkan puasa (seperti yang mimpi basah di siang hari)

Dan kebiasaan buruk dengan menonton video porno adalah sebuah kemaksiatan yang berpotensi membuat sia sia puasa kita, yang karenanya meskipun anda tidak harus mengqadha puasda anda, tetapi seyogyanya anda segera bertaubat kepada Allah dan meninggalkan perbuatan buruk tersebut. Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya. Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA