Was Was Terhadap Najis

Thaharah, 11 November 2025

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum admin.

Saya pernah pernah sembuh dari was was najis, tapi hampir 2 bulan ini penyakit tsb kambuh kembali. Saya ingin bertanya tentang yg paling saya khawatirkan saat di tempat umum. 

1. Setelah BAK atau BAB, ketika beristinja, siraman pertama menyiprat ke baju/ atau ke bagian belakang tubuh, saya hanya bisa menyiram bekas cipratan tsb semampu saya, bagaimana jika saya tidak rata dalam menyiram bekas cipratan tsb? Sedangkan kadang harus menunaikan sholat di jalan, tidak keburu jika sholat di rumah. 

2. Yang baru saja saya alami adalah ketika BAK di tempat kerja, saya siram dulu BAK saya yg ada di lantai sebanyak 2 gayung, kemudian saya beristinja yg pertama aman, istinja gayung yg ke 2 aman, ketika istinja gayung yg ke 3, gayungnya kena lantai, bagaimana hukum gayung tsb serta ember & airnya? 

Saya khawatir bahwa saya menyebarkan najis ke semua orang, karena kan banyak orang yg menggunakan kamar mandi tsb. 

Terimakasi telah bersedia membaca pertanyaan saya & terimakasih sudah berkenan menjawab. Wassalamu'alaikum wr. wb. 



-- Fera (Cilegon)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Perlu dipahami bahwa was-was (keraguan yang berlebihan) terhadap najis adalah penyakit dari setan. anda harus melawan was-was tersebut dengan cara tidak mengangapnya, karena jika dituruti, akan merusak kekhusyukan ibadah dan membuat hidup tidak nyaman. Hukum-hukum dalam Islam ditujukan untuk kemudahan, bukan menyulitkan.
 
Berikut adalah jawaban atas kekhawatiran anda berdasarkan prinsip fiqh, terutama bagi orang yang mengalami was-was:
 
Air yang digunakan untuk membersihkan najis pada siraman pertama, jika najisnya sudah hilang, hukumnya suci dan tidak menajiskan. Bahkan jika ada sedikit najis yang masih tersisa dan sulit dihindari (seperti cipratan yang sangat kecil), itu termasuk najis ma'fu (najis yang dimaafkan) dalam kondisi darurat atau sulit dihindari, terutama bagi penderita was-was
 
Dalam kondisi was-was, cukup yakini bahwa anda telah berusaha semampu anda untuk membersihkan bagian yang terkena cipratan. anda tidak dituntut untuk kesempurnaan mutlak yang mustahil di tempat umum. Islam mengajarkan kemudahan (yusur). anggaplah bekas cipratan itu suci atau najis yang dimaafkan, dan jangan periksa lagi.
 
Karena anda sudah berusaha membersihkan semampu anda dan cipratan tersebut termasuk najis yang dimaafkan, sholat anda sah. Tidak perlu mengulang sholat di rumah. Meninggalkan sholat karena was-was najis adalah kesalahan yang lebih besar daripada sholat dengan sedikit keraguan najis. 

Lantai kamar mandi umum, meskipun sering digunakan, pada dasarnya dianggap suci kecuali jika anda melihat najis yang jelas wujudnya ('ainiyah) seperti warna, bau, atau rasa. Jika anda telah menyiram area BAK anda sebelumnya, area tersebut telah suci secara hukum.

Ketika gayung anda menyentuh lantai yang basah, dan anda tidak melihat najis yang jelas pada lantai tersebut, maka gayung, ember, dan air di dalamnya tetap suci .
 
Kekhawatiran anda bahwa anda menyebarkan najis ke semua orang adalah bentuk was-was yang harus dilawan. Dalam fiqh, benda kering yang menyentuh najis kering tidak akan memeindakan najisnya. Benda basah yang menyentuh najis juga tidak serta merta menjadi najis kecuali najisnya jelas menempel dan terlihat wujudnya. Lantai kamar mandi umum yang sudah dialiri air secara umum dihukumi suci. 
 
Kunci melawan was-was adalah dengan mengabaikannya. Jika anda tidak 100% yakin melihat najis dengan mata kepala sendiri (ada wujud, warna, bau, rasa yang jelas), maka anggaplah semuanya suci.
 
Cukup basuh satu kali untuk menghilangkan najis 'ainiyah (wujudnya) dan satu kali lagi untuk menyucikan tempatnya (atau guyur sampai hilang sifat najisnya). Jangan berlebihan dalam menggunakan air atau mencuci berulang kali.
 
Setelah selesai istinja, disunnahkan memercikkan sedikit air ke celana dalam atau sarung untuk menghilangkan was-was. Jika nanti anda menemukan basah, yakini itu adalah air percikan yang suci, bukan najis.  
Lawan pikiran was-was dengan banyak berdoa dan berlindung kepada Allah dari godaan setan. Fokuslah pada kewajiban sholat dan niat baik anda. Allah Maha Pengasih dan tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka.
 
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
 
Wassalaamu 'alaikum wrwb.


-- Agung Cahyadi, MA