Pertanyaan:
Assalaamoe alaikoem wa rahmatoellahie wa barakatoeh Ustaadh,
Mohon bertanya. Kalau seorang perempuan keluar darah merah tua, namun tidak mengalir banyak. Ini terjadi setengah jam sebelum iftaar, apakah puasanya sah? Dan ini memang masanya dia haid. Dan pagi harinya yang masih tersisa cairan coklat tua. Kalau memang puasanya tidak sah karena haid, apakah dia sudah boleh bersuci untuk meneruskan puasanya? Djazakallahoe khairan kathieran, wa assalaamoe alaikoem wa rahmatoellahie wa barakatoeh.
--
Musa Van Cauter (Breda)
Jawaban:
Waalaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh.
Berdasarkan keterangan yang anda berikan, berikut adalah jawaban fiqih terkait permasalahan tersebut:
1). Hukum Puasa yang Keluar Darah Sebelum Iftar
Jika seorang wanita keluar darah haidh (merah tua/darah segar) sesaat sebelum maghrib (dalam kasus anda setengah jam sebelum iftar) pada hari ramadhan, maka puasanya batal.
- Meskipun darah yang keluar sedikit, selama itu adalah darah haidh dan terjadi sebelum matahari terbenam (adzan maghrib), maka puasa hari itu tidak sah.
- Wanita tersebut wajib mengqadha' (mengganti) puasa tersebut di hari lain.
- Darah yang keluar sebelum maghrib membuat puasa batal, walau sudah menahan diri seharian.
2). Hukum Darah/Cairan Coklat Tua di Pagi Hari
Cairan coklat tua (kudrah) yang keluar pada masa haidh atau bersambung dengan keluarnya darah haidh (seperti kasus anda yang berlanjut dari sore sebelumnya) dihukumi sebagai darah haidh. Selama darah/flek tersebut masih keluar, wanita tersebut dianggap masih dalam keadaan haidh dan tidak boleh berpuasa.
3). Bersuci untuk Meneruskan Puasa
Jika haidh masih berlangsung atau masih keluar flek coklat tua di pagi harinya, Anda belum boleh bersuci (mandi wajib) untuk tujuan berpuasa.
- Wanita haidh haram berpuasa, dan puasanya tidak sah.
- Anda hanya boleh mandi wajib jika yakin darah sudah berhenti total (ditandai dengan keluarnya cairan putih bening/qasshatul baidha atau kering total)
Demikian, semioga Allah betrkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya. Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA