Agar Sholat Dan Doa Bisa Khusyuk

Dzikir & Doa, 13 Maret 2008

Pertanyaan:

Ustadz, saya ingin bertanya tentang bagaimana cara agar saat sholat dan berdoa bisa saya lakukan dengan khusyuk karena sering saya sholat tapi pikiran saya melayang kemana-mana. Dan sering saya saat berdoa rasanya terburu-buru.
Terimakasih sebelumnya Ustadz.

-- Handayani (Jakarta)

Jawaban:

Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillah, amma ba’du:

Untuk bisa fokus dan khusyuk di dalam shalat, dzikir dan doa, memang banyak faktor yang perlu diperhatikan dan harus dilakukan, antara lain sebagai berikut:

1. Faktor tingkat keimanan kita memiliki pengaruh yang sangat vital dan menentukan dalam upaya menggapai kekhusyukan di dalam setiap shalat, dzikir dan doa yang kita lakukan. Khususnya pada aspek iman qalbi ‘amali (keimanan yang berupa keyakinan hati yang bersifat praktis), yang menghasilkan keikhlasan dan sensitivitas hati yang dengannya kita bisa merasakan dan menikmati kelezatan ibadah kepada Allah, seperti shalat, dzikir, doa dan lainnya.

2. Faktor tingkat pemahaman kita juga sangat berpengaruh, khususnya pemahaman dan penghayatan terhadap setiap bacaan yang kita ucapkan di dalam shalat kita, seperti ayat-ayat Al-Qur'an, dzikir-dzikir dan do’a-do’a. Maka upayakan selalu untuk meningkatkan pemahaman terhadap kandungan, isi, makna dan arti setiap bacaan di dalam shalat, dzikir dan doa.

3. Persiapan yang baik sebaik-baiknya setiap akan menunaikan shalat, atau dzikir atau doa yang meliputi: persiapan hati, pikiran, perasaan, fisik, tempat, suasana, dan lain-lain yang harus diupayakan sekondusif mungkin bagi tercapainya kekhusyukan yang didambakan.

4. Khusus tentang persiapan hati dan pikiran, upaya harus optimal agar terbangun sikap totalitas hati dan pikiran (madhep manteb) dalam menghadap Allah dan bermunajat pada-Nya.

5. Selalu melakukan muhasabah dan introspeksi diri untuk mengenang dan mengingat dosa-dosa yang telah lalu, baik berupa kewajiban-kewajiban yang dilalaikan dan ditinggalkan tanpa udzur syar’i, maupun berupa larangan-larangan yang dilanggar. Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk senantiasa melakukan tobat dengan taubatan nashuuha (tobat yang sebenar-benarnya dan semurni-murninya), yakni tobat yang benar sesuai syarat-syaratnya, yang jujur dan yang sungguh-sungguh, dengan antara lain memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah. Hal itu karena salah satu penghalang utama kekhusyukan adalah banyaknya kemaksiatan dan dosa yang meninggalkan noktah-noktah hitam yang menutup hati (lihat HR.Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasaa-i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). Maka agar bisa khusyuk, hati harus dibersihkan dari noktah-noktah hitam tersebut dengan tobat dan istighfar.

6. Pelatihan dan pembiasaan dengan cara memperbanyak shalat-shalat, dzikir-dzikir, doa-doa, bacaan ayat-ayat atau surah-surah tertentu yang biasanya paling memungkinkan untuk kita bisa khusyuk di dalamnya, misalnya seperti shalat qiyamullail pada sepertiga malam terakhir, shalat dhuha, dan lain-lain. Begitu pula dengan dzikir-dzikir, doa-doa, dan ayat-ayat atau surah-surah tertentu, dimana biasanya kita bisa merasa lebih menghayati dan lebih khusyuk saat memanjatkan dan membacanya. Tapi perlu kami beri catatan bahwa, yang kami maksudkan dengan pelatihan disini bukanlah misalnya dengan mengikuti pelatihan shalat khusyuk, atau pelatihan tahajjud khusyuk, atau pelatihan dzikir khusyuk, atau praktik dzikir dan doa massal, dan semacamnya, yang cukup marak akhir-akhir ini. Karena kalau untuk itu, kami tidak merekomendasikannya, atau kami ingatkan agar waspada dan selektif, karena ada beberapa catatan seputar hal-hal yang tidak ditolerir pada praktik beberapa pelatihan sejenis itu.

7. Terus dan selalu ber-mujahadah (berusaha dan berupaya keras) tanpa mengenal henti atau apalagi putus asa, untuk menggapai kekhusyukan dan penghayatan yang baik dan memadai..

8. Tidak melalaikan do’a dan munajat khusus untuk memohon dengan tulus dan ikhlas kepada Allah agar dikaruniai penghayatan dan kekhusyukan yang diharapkan.

9. Ada hubungan timbal balik yang sangat kuat (saling terpengaruh dan mempengaruhi) antara kondisi seseorang di luar shalat dan di dalam shalat. Oleh karenanya menjadi sangat urgen dan mendasar sekali, untuk bisa khusyuk dan tenang di dalam shalatnya, seseorang harus selalu memelihara dirinya di luar shalat, dengan berusaha selalu menjaga dan meningkatkan ketaatan, serta menjauhi kemaksiatan. Jadi secara umum orang yang bisa khusyuk di dalam shalatnya, adalah orang yang “khusyuk” di dalam hidupnya di luar shalat.

10. Selain itu semua, biasanya ada faktor-faktor tertentu bagi tiap-tiap orang, yang lebih membekas dan berpengaruh dalam dirinya, dan yang membuatnya bisa lebih khusyuk dalam shalat. Dan faktor-faktor khusus ini bisa berbeda-beda antara satu orang dan orang yang lainnya. Dan di antara faktor-faktor itu, misalnya faktor pilihan tempat, pilihan waktu, pilihan bacaan ayat, bacaan/suara imam tertentu dalam shalat berjamaah, ingatan akan keagungan Allah, ingatan akan kematian, ingatan adzab neraka, ingatan akan dosa-dosa, dan lain-lain. Jika kita merasa adanya faktor-faktor khusus semacam itu yang bisa berpengaruh dan berbekas secara khusus dalam diri dan hati kita, sehingga dengannya kita bisa lebih khusyuk dan tenang dalam shalat kita, maka perlu kita jadikan sebagai sarana dan jalan untuk meraih kekhusyukan yang kita dambakan.

Demikianlah jawaban yang bisa kami berikan, semoga dipahami baik dan bermanfaat. Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq ilaa aqwamit-thariiq.




-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA