Terpengaruh Pada Ramalan Bintang

Aqidah, 20 Februari 2008

Pertanyaan:

Ustadz, kadang-kadang saya tertarik untuk membaca ramalan bintang di majalah. Setelah membacanya, saya jadi sedikit terpengaruh. Kalau ramalannya bagus, saya jadi terobsesi dan timbul sugesti pada diri saya. Sedang jika ramalannya buruk, saya jadi sedikit takut dan khawatir. Apakah perasaan seperti ini dibenarkan oleh agama? Mohon penjelasan Ustadz.



-- Muhammad Ismail (Lamongan)

Jawaban:

Islam datang untuk nengingkari, memberantas dan memerangi kebatilan dalam segala bentuknya, termasuk perkara yang dikembangkan kaum jahiliyah berupa khurofat dan takhayul

Diantara bentuk dan praktik  khurofat dan takhayul  ialah sihir, perdukunan, ramalan nasib dan juga ramalan bintang dan segala bentuk perbuatan dan tradisi menerka keberuntungan dan nasib buruk dan mencampuri perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah saja.

Allah dalam banyak ayat telah menegaskan, bahwa tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.

"Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah."  (QS. 27:65)

"Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.  Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya." (QS. 72:26-27)

Rasulullah saw dalam banyak haditsnya juga telah menegaskan akan kesesatan dan kemungkaran orang-orang yang mempercayai khurofat dan takhayul tersebut :

"Barang siapa yang mendatangi tukang ramal (ahli nujum), lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam." (HR. Muslim)

"Barang siapa yang mendatangi tukang ramal atau tukang sihir atau dukun, kemudian mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw." (HR. Thabrani)

Pengetahuan  tentang ramalan bintang untuk mengetahui perkara gaib dianggap sebagai salah satu jenis sihir yang diharamkan. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mempelajari satu cabang dari ilmu nujum (ramalan perbintangan), berarti telah mengambil salah satu bagian ilmu sihir, semakin bertambah ilmu nujumnya akan bertambah pula sihirnya." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dengan demikian, ahli nujum (pelaku ramalan bintang) yang mendakwa mengetahui perkara gaib dan sejenisnya adalah pendusta yang menyesatkan, menebak perkara gaib termasuk jenis kekufuran, mempercayai, membenarkan ramalan dan terpengaruh olehnya adalah bentuk kesesatan yang dapat mengakibatkan kepada kemusyrikan.

-- Agung Cahyadi, MA