Berbakti Kepada Orang Tua

Lain-lain, 14 April 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saya mempunyai teman dekat (perempuan), sekarang dia tengah duduk dikelas 11 Madrasah Aliyah. Teman saya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan setelah lulus nanti. Bahkan akhir akhir ini setahu saya dia sedang giat giatnya belajar. Tapi ternyata ibunya tidak mengizinkan dia untuk kuliah sehingga sekarang teman saya sedang terpuruk bahkan kehilangan semangat. Ibunya memiliki mindset bahwa anak perempuan tidak perlu kuliah karena nanti ujung ujungnya pasti akan berkutat didapur juga. Beliau juga men-generalisasikan pergaulan dilingkungan semua kampus itu buruk, sehingga nanti akan berdampak negatif terhadap anaknya. Padahal dari segi finansial keluarganya sangat berkecukupan. Teman saya sudah mencoba berbicara dengan ibunya dan sudah menjelaskan semua hal agar ibunya mengizinkannya, tetapi beliau tetap bersikeras dengan pendiriannya. Teman saya benar benar bingung, nanti setelah lulus mau apa, karena ibunya tidak mengizinkannya untuk kuliah maupun bekerja. Ibunya memiliki tipe sangat overprotective terhadap anaknya dan maaf, bisa dibilang sangat mengekang anaknya. Beliau selalu menuntut teman saya agar menuruti segala keinginan beliau, tanpa mau melihat apa yang diinginkan oleh anaknya. Selama ini teman saya selalu menuruti segala perintah ibunya. Secara psikologis teman saya sudah sangat terluka. Dia tidak bisa bercerita dengan anggota keluarganya yang lain seperti paman, bibi, atau nenek, dikarenakan ibunya melarangnya. Dan ayahnya pun juga tidak bisa dijadikan tempat untuk mengadu, karena beliau ini bukan ayah kandung dan sangat menurut dengan istrinya (ibu teman saya) sehingga hubungan teman saya dan ayahnya ini tidak terlalu dekat. Ibunya juga pernah mengatakan bahwa anaknya tidak boleh kabur dari rumah. Jika dia berani kabur maka sama saja setiap langkah yang diambilnya merupakan langkah setan karena membangkan perintah ibunya. Beliau juga selalu bilang ke teman saya seperti ini 'Seorang anak kayak kamu itu harus dan wajib taat sama perintah ibunya karena bagaimanapun, surgamu itu ada di ibumu'. Teman sayapun tidak bisa berkutik lagi jika ibunya membawa dalil dalil tentang berbakti kepada orang tua. Teman saya merasa diperlakukan seperti boneka bahkan tanpa pernah diberi kesempatan untuk memilih apa yang diinginkannya.

Apa yang harus dilakukan teman saya Ustadz? Apakah tindakan seorang ibu yang mengendalikan anaknya dalam segala hal ini dibenarkan? Dan juga apakah sikap ibunya yang melarang anaknya untuk meneruskan pendidikan juga wajar?

Terimakasih



-- Fitri (Bandung)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Untuk menjawab pertanyaan diatas,ada beberapa poin terkait wanita yang harus diketahui menurut Islam:

  1. Allah menciptakan wanita dan laki-laki dengan kodrat yang berbeda, keduanya diberikan fungsi dan tugas yang berbeda-beda.untuk melengkapi satu sama lain, sehingga kehidupan akan sempurna baik secara duniawi maupun ukhrawi, baik kehidupan keluarga maupun sosial. Karena itu keduanya berbagi tugas dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Allah menciptakan manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan bukan menunjukkan bahwa yang satu lebih utama dibandingkan yang lain. Laki-laki dan perempuan sama di mata Allah yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Allah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungghunya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.”

  1. Cara menggapai takwa bagi keduanya adalah dengan melaksanakan perintah Allah yang telah ditetapkan kepada mereka. Ada perintah yang berlaku untuk keduanya, ada perintah yang hanya berlaku pada salah satunya dan tidak pada yang lainnya. Contohnya wanita/ibu wajib menyusui anak, laki-laki tidak dan laki-laki wajib memberi nafkah sememtara wanita tidak wajib dan seterusnya.
  2. Hukum asal bagi wanita itu tinggal di rumah. Allah berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً

Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

  1. Tanggung jawab utama seorang istri adalah menjadi penanggung jawab urusan rumah tangga suaminya. Rasulullah bersabda:

كلكم راع، وكلكم مسئول عن رعيته، فالأمير راع، وهو مسئول عن رعيته، والرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده، وهي مسئولة عنهم، والعبد راع على مال سيده، وهو مسئول عنه، فكلكم راع مسئول عن رعيته

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829)

Berdasarkan poin-poin diatas, wajar bagi ibu teman Anda  mengatakan bahwa wanita itu pada akhirnya adalah tinggal di rumah dan mengurus rumah tangga.

Akan tetapi meskipun demikian bukan berarti wanita tidak punya hak untuk belajar setinggi-tingginya. Karena kewajiban mencari ilmu itu berlaku sampai mati. Dengan belajar tinggi maka anak-anak yang lahir dari rahimnya akan terdidik secara baik, dengan itu maka akan lahir generasi yang baik bagi agama dan bangsa serta menjadi penyejuk mata bagi keluarganya.

Yang perlu digali dari teman Anda adalah niatnya kuliahnya. Apakah niatnya adalah mencari ilmu untuk menguatkan dia dala menunaikan tugasnya sebagia seorang ibu nantinya atau ada niat lain yang dibungkus oleh keinginan dia kuliah,seperti kuliah agar supaya bisa bekerja dan mencari nafkah sendiri, ingin menjadi wanita karir, malu kalau tidak berpendidikan tinggi dan seterusnya. Jika niatnya tulus untuk mencari ilmu demi untuk mendidik masa depan anak-anaknya, maka jalan mencari  ilmu itu banyak jalan yang terbentang untuknya. Ilmu bisa dicapai tidak harus kuliah dan tidak harus keluar rumah yang jauh/keluar kota. Sarana dan lembaga pendidikan yang ada sekarang cukup memudahkan bagi pencari ilmu. Dia bisa kuliah jarak jauh, bisa belajar online, mengikuti kursus-kursus sesuai dengan minat dan bakatnya. Sehingga dengan itu dia tetap bisa belajar dan berbakti kepada ibunya.

Ridho seorang ibu adalah ridho Allah, murkanya ibu adalah murkanya Allah. Rasulullah saw bersabda:

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ

 

“Ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua”

(HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim)

Demikian yang bisa disampaikan dan semoga bermanfaat. Wallahu a’lam boshowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc