Suami Chat Dengan Perempuan

Akhlaq, 3 Juli 2021

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb.

Bagaimana jika suami chat dengan perempuan terkait hal arisan. Karena memang teman sendiri. Tetapi chat dihapus karena mengandung keburukan. Apa hukumnya? Dan apakah istri tidak boleh tahu tentang suatu keburukan pada teman suami? 



-- Wiwid (Wonosobo )

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Chat itu artinya obrolan maka hukum chatting sama dengan hukum obrolan dan berkomunikasi. Berkomunikasi dengan lawan jenis dalam Islam itu ada aturannya:

  1. Aman dari fitnah, artinya komunikasi atau chating itu harus aman dari hal yang menimbulkan firnah sehingga berakibat buruk secara perilaku maupun citra. Untuk menghindari firtnah maka chating hanya dilakukan karena ada kedaruratan atau masalah yang mendesak, jika tidak dilakukan maka akan menimbul masalah.
  2. Tidak khalwat atau berduaan. Untuk menghindari khalwat, chating tidak perlu menjadi rahasia, karena memang tidak ada perlu dirahasiakan. Komunikasi tentang pekerjaan atau arisan adalah perkara biasa dan wajar, sehingga nggak perlu ada rahasia. 
  3. Harus ada kemaslahatan dari chating itu. Bukan hanya sekedar chating sesuatu yang tidak membawa manfaat, seperti hanya sekedar ngobrol ngalor ngidul tak jelas tujuannya. Karena itu jika dalam chating atau obrolan ada keburukan maka harus dihapus.

Terkait keburukan orang lain,maka keburukan itu harus dirahasiakan dan tidak boleh disampaikan kepada orang lain. Jika bisa dihapus maka wajib dihapus. Menyembunyikan aib atau keburukan orang lain adalah perilaku terpuji dan akan menjadi sebab dilindunginya aib dirinya pada hari kiamat kelak. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” [HR. Tirmidzi]

Seorang istri tidak boleh mengetahui aib teman suaminya, sebagaimana orang pada umunya juga tidak boleh mengetahui dan mencari-cari aib orang lain dan keburukannya. Allah swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat:12)

Demikian yang bisa disampaikan.wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc