Menyakiti Hati Orang Lain

Akhlaq, 17 Oktober 2021

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, saya ingin bertanya ustadz, 

Saya seorang remaja, saya termasuk orang yang susah untuk bersosialisasi, namun saya pernah menyakiti hati orang lain yang tetangga saya dengan mengabaikan nya, saat itu posisinya tetangga saya sedang menunggu saudara saya yang sedang bersiap siap karena mengajaknya pergi bersama ke suatu tempat, mereka menunggu didepan pagar saja karena tidak ingin masuk. Pada saat yang sama, saya sudah selesai melakukan sesuatu dipekrangan rumah dan hendak masuk kedalam rumah, pada saat berjalan masuk kerumah disitu saya hanya berlalu didepan mereka tanpa sedikitpun berbalik kearah mereka dan menyapanya. Padahal saya tahu mereka ada didepan rumah saat itu. Entah apa alasan jelas mengapa saya melakukan hal tersebut disaat itu. Mungkin saya merasa tidak percaya diri karena saya selalu bersikap kaku, atau mungkin saya tidak tahu harus berkata apa kepada mereka karena jarang berinteraksi. Hal tersebut membuat saya sangat menyesal karena saya rasa sejak saat itu mereka bersifat dingin terhadap saya, walau sebelumnya pun saya jarang berinteraksi dengan mereka. Namun kami pernah akrab saat masih kecil. 

Saya rasa sejak hari itu, mereka jadi tambah tidak memperdulikan saya, apakah saya ada didekat mereka atau tidak. Mereka seperti tidak ingin melihat wajah saya meskipun kami sedang berpapasan dijalan. Saya sangat menyesal telah membuat orang lain sakit hati, terlebih lagi saya tidak tahu harus bagaimana untuk meminta maaf kepada mereka karena kami tidak dekat. Mereka hanya berbicara kepada keluarga saya, hanya saya yang diabaikan apabila bertemu, walaupun posisinya saya sedang bersama salah satu anggota keluarga saya saat bertemu dengan mereka, tetap saja saya seperti tidak dihiraukan. Tetapi tidak apa apa mereka bersikap seperti itu terhadap saya, asalkan mereka telah memaafkan saya. Saya mengerti, bagaimana mungkin saya akan dimaafkan tanpa meminta maaf. Mereka pasti sakit hati dengan perbuatan saya, jadi wajar saja apabila mereka juga balik mengabaikan saya. Namun saya juga tidak tahu harus berbuat apa agar bisa dimaafkan, karena saat bertemu pun mereka sama sekali tidak ingin melihat kearah saya. Dan saya juga tidak berani untuk meminta maaf karena kami tidak seakrab itu untuk saya secara langsung meminta maaf. Kejadiannya pun sudah terjadi berbulan2 yang lalu, sudah hampir setahun sejak saya mengabaikan mereka.

Saya takut sekali bagaimana jikalau mereka benar benar tidak ingin memaafkan saya sampai kapanpun. Karena tampaknya mereka sama sekali tidak ingin memaafkan saya. Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya sangat tidak tenang apabila sedang teringat kesalahan saya tersebut.

Saya harus bagaimana ustad? Mohon penjelasannya. Terima kasih, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 



-- Rina (samaran) (Anonim)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Komunikasi adalah kata kunci utuk saling mengenal dan mengetahui. Jika antara dua orang tidak terjadi komunikasi, maka tidak terjadi pertukaran informasi. Jika tidak terjadi pertukaran nformasi maka tidak terjadi saling memahami. Sebagai contoh, jika anda tidak menginformasikan nama anda kepada orang lain, maka anda tidak dikenal. Jika orang lain tidak mengiiformasikan namanya kepada anda, maka andapun tidak akan kenal namanya. Jika anda tidak menyampaikan perasaan suka atau benci anda kepada orang lain, maka orang lain itu tidak akan tahu bahwa anda suka atau benci. Jika orang lain tidak menyampaikan perasaan suka atau bencinya kepada anda, andapun tidak akan pernah tahu yang sebenarnya, dia itu suka atau benci kepada anda.

Jika komunikasi tidak terjadi yang terjadi adalah prasangka atau dugaan. Orang yang tersenyum kepada anda,akan anda duga dia suka kepada anda, padahal belum tentu demikian. Orang yang mendiamkan anda, anda duga dia benci kepada anda.orang yang tidak menyapa anda, maka akan anda duga dia sombong, dan seterusnya. Padahal belum tentu demikian.

Dari cerita yang anda sampaikan, kami menangkap bahwa anda menduga telah menyakiti orang lain, padahal belum tentu orang yang anda diamkan membenci anda, bisa jadi dia memaklumi anda bersikap seperti itu karena anda kurang bergaul. Dan bisa jadi orang yang anda duga benci kepada anda karena dia tidak menyapa anda, tidak sedang membenci anda, tapi dia lakukan tiu karena anda orangnya pendiam dan tidak komunikatif. Jadi, anda dicuekin saja sama dia, karena baginya tidak ada gunanya menegur anda, bukan karena benci kepada anda atau karena sakit hati kepada anda.

Sebaiknya anda belajar bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain, agar anda tidak mendahulukan prasangka dan mudah menuduh orang karena kesalahan memahami sikap orang lain. Kita dilarang untuk menduga-duga dan diperintahkan untuk tabayun atau melakukan kroscek terhadap masalah yang tidak jelas. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-car kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)

Dan jika kita mendapati perkara atau berita yang tidak jelas,maka kita diperintahkan untuk memperjelas agar tidak prasangka. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. (QS al-Hujurât/49:6).

Jika benar bahwa anda telah menyakiti hati mereka-bukan dugaan anda, maka anda harus meminta maaf kepadanya. Sampaikan secara langsung apa yang anda rasakan kepadanya. Jika anda tidak pernah menyampaikan, maka anda tidak pernah tahu apakah dia mau memaafkan anda atau tidak. Jika anda tidak bisa menyampaikan secara tatap muka, anda bisa menyampaikan lewat surat, lewat telpon, lewat medsos yang anda punya. Semoga dengan begitu anda bisa mendapatkan respon yang baik. Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc