Hukum Chat Dengan Bukan Muhrim

Pernikahan & Keluarga, 5 Januari 2022

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum wr wb

Saya seorang istri, suami saya berkerja di luar kota, seminggu sekali pulang ke rumah, suami sering chat dg perempuan saudara jauh (bukan muhrim), hampir setiap hari ada chat dengan ybs, seringnya masalah politik  atau yang baru trend, kadang curhat misal ybs curhat kalau habis di labrak lewat telepon dari istri yang terganggu dengan chat ybs dengan suami istri tsb. Suami saya dan ybs dengan dalih jarang bertemu (beda kota) dan sebisa mungkin mengurangi chat yang bersifat pribadi bersepakat tetap meneruskan hubungan ini dengan alasan saling menguatkan iman. Ini sy baca dr chat keduanya di hp suami saya. Awalnya saya juga tidak mempermasalahkan, tp setelah saya tahu intensitas chat nya, kadang waktu di rumah juga masih chat, padahal saya bilang kalau tidak suka chat dg bukan muhrim tapi tetap berjalan terus. Saya tidak suka juga karena misal chat tidak dibalas suami saya beberapa saat maka ybs akan kepo dan khawatir ada apa kok tidak balas chat. Seperti ada perhatian yang lebih, kalau ada hal baru seperti otomatis harus saling share.

Yang ingin saya tanyakan

1.apa tindakan mereka salah atau saya yang terlalu baper?

2. tindakan apa yang harus saya lakukan sebagai istri menghadapi ini mengingat ilmu agama mereka jauh diatas saya?



-- Katri (Semarang)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Suatu kewajaran bila anda tidak nyaman dengan perilaku suami anda yang sering chating dengan orang lain yang bukan mahram walaupun dia masih tergolong saudara jauh. Chating itu sama dengan bicara, hanya medianya saja yang berbeda. Chating memakai alat komunikasi dan berbicara dengan tatap muka langsung atau calling dengan HP.

Hukum asal berbicara atau chating dengan lawan jenis yang bukan mahram adalah mubah selama hal itu aman dari fitnah dan sesuai dengan kebutuhan. Jika tidak aman dari fitnah, misal chating yang dirahasiakan dan tidak terbuka dalam isi chating serta chating yang menjurus kepada konten yang maksiat, maka hukumnya haram.

Untuk menghentikan perilaku suami anda itu, anda harus mencari sebab dan alasan suami anda suka chating dengan orang lain yang bukan mahramnya daripada dengan anda sebagai istrinya. Anda harus melakukan instrospeksi dan evaluasi, kenapa suami anda lebih asyik chating dengan orang lain dalam tema-tema aktual dan masalah peningkatan iman. Apa yang kurang dari anda sehingga. Dengan mengetahui sebabnya akan lebih mudah untuk menghentikannya.

Ada beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk menghentikan chating suami anda dengan orang lain. Antara lain:

  1. Sampaikan ketidaknyaman anda atau kecemburuan anda serta perasaan anda, dengan bahasa langsung. Kenapa dengan bahasa langsung dan tegas? Agar suami anda mengerti apa yang anda rasakan. Laki-laki pada umumnya tidak mengerti dengan bahasa kiasan atau bahasa tidak langsung.
  2. Lakukan introspeksi diri untuk menggali penyebab sikap suami anda seperti itu. Tanyakan kepadanya apa yang harus anda lakukan untuk memenuhi kebutuhan dia berkomunikasi. Sehingga tidak perlu berkomunikasi dengan wanita lain. Cukup berkomunikasi dengan anda saja.
  3. Sarankan untuk menjalin komunikasi dan chating tentang beragam masalah dengan mereka yang sejenis. Sesama laki-laki saja. Karena intensitas chating dengan lawan jenis berpotensi terjadi penyelewengan. Ada pepatah jawa :”witing tresno jalaran songko kulina”. Rasa cinta berawal dari seringnya bersua dan bicara. Allah melarang segala hal yang mengarah kepada perbuatan zina. Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Isra:32)

  1. Jadikan momentum kepulangan suami anda sebagai waktu yang terbaik untuk bercengkrama dengan suami. Gunakan waktu yang sejenak itu waktu yang istimewa, sehingga suami anda sangat terkesan dan bertemu dengan anda menjadi waktu yang dirindukan ketika dia pulang kerja.
  2. Berdoalah kepada Allah agar keluarga anda dilindungi dari segala godaan setan dan semoga Allah selalu memberikan suasana sakinah, mawaddah wa rahmah.

Demikian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowa. (as)

 



-- Amin Syukroni, Lc