Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Akhlaq, 29 Juni 2022

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustadz. Suatu malam selepas saya menonton pertandingan bola voli di desa saya saya melihat sekumpulan orang bergerombol dari agak kejauhan saya terheran berkata : “ mereka sedang apa disana” kebetulan saya sedang bersama ibu saya. Ibu saya menjawab “itu kelompok sedang berdadu” tapi saya tidak pasti itu bertaruh dadu atau tidak tapi saya berkata harus dinasehati, tapi dijawab oleh ibu bahwa itu bukan urusan saya. Dan hari lain saya melihat gerombolan serupa tapi ntah apa yang dilakukan, yang jadi pertanyaan apakah saya berdosa karena tidak mengingkari kemungkaran, tapi saya mengingkari dengan hati. Sudah tepatkah?

 


-- Siti Nur Khayatun (Pati)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Terkait dengan nahi munkar. Rasulullah saw menjelaskan dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim )

Dalam hadis diatas disampaikan bahwa setiap orang yang melihat kemunkaran harus mengubahnya dan meningkarinya denga cara yang paling sesuai dengan keadaan orang yang melakukan inkarul munkar dan keadaan orang yang melakukan kemunkaran. Jika dia mampu dengan kekuatan dan kekuasaannya (tangan) maka hendaknya dilakukan dengan tangannya. Jika tidak  mampu maka dingkari dengan lisan dan tulisannya. Dan jika tetap tidak mampu maka cukup dengan ingkar dalam hati. Hatinya menolak adanya kemunkaran tersebut.

Ada hal yang harus diperhatikan ketika melakukan inkarul munkar. Antara lain:

  1. Kemunkaran yang dilihat adalah kemunkaran yang diyakini kemunkarannya atau salahnya oleh pelakunya dan orang yang melakukan inkarul munkar.
  2. Kemunkaran diubah dengan cara yang tidak menimbulkan kemunkaran dan madharat yang lebih besar.
  3. Hendaknya dalam melakukan inkarul munkar dimulai dengan cara lembut dan secara pribadi.


Terkait sikap yang anda harus ambil pada kasus yang anda sampaikan diatas, dapat kami sarankan: Anda sebaiknya mengukur kemampuan anda dalam inkarul munkar. Mana yang paling mungkin anda lakukan. Jika anda hanya mungkin mengingkarinya dalam hati. Maka inkarilah dalam hati. Dengan demikian anda telah melaksanakan perintah Allah swt. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc