Muntahan

Thaharah, 24 Desember 2023

Pertanyaan:

Assalamualaikum 

Ustad anak saya muntah di lantai, trus istri saya membersihkannya cuman hanya di lap saja, dan sudah ke injak dimana mana. Apakah muntah itu najis?

 



-- Zulu (Makasar)

Jawaban:

Wa'alaikumussalaam wrwb.

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa semua makanan atau cairan yang keluar dari lambung ke mulut melalui kerongkongan disebut dengan qoi’ atau biasa diterjemahkan dengan muntah. Menurut ulama Syafiiyah, makanan atau cairan yang keluar dari lambung atau muntah dihukumi najis, meskipun makanan atau cairan tersebut belum berubah bentuk dan warnanya.  

Sementara jika belum sampai pada lambung dan kemudian keluar lagi ke mulut melalui kerongkongan, maka tetap dinilai suci, tidak dihukumi najis dan tidak pula dihukumi barang yang terkena najis atau mutanajjis.

Oleh karena itu, gumoh pada bayi perlu untuk dikaji terlebih dahulu. Jika cairan ASI atau susu formula sudah sampai pada lambung bayi, dan kemudian keluar lagi, maka hal itu dihukumi najis, meskipun cairan tersebut belum berubah bentuk dan warnanya. Namun jika belum sampai pada lambung bayi, dan kemudian keluar lagi, maka dihukumi suci, tidak najis ataupun mutanajjis.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Muin berikut :

وَقَىْئُ مَعِدَّةٍ وَإِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ، وَهُوَ الرَّاجِعُ بَعْدَ الْوُصُوْلِ لِلْمَعِدَّةِ وَلَوْ مَاءً، أَمَّا الرَّاجِعُ قَبْلَ الْوُصُوْلِ إِلَيْهَا يَقِيْنًا أَوِ احْتِمَالًا فَلَا يَكُوْنَ نَجْسًا وَلَا مُتَنَجِّسًا

Dan (sesuatu yang najis adalah) muntahan dari lambung, meskipun tidak ada perubahan. Muntahan adalah setiap perkara yang kembali keluar setelah sampai pada lambung, meskipun cuma berupa air. Namun ketika diyakini atau diragukan belum sampai pada lambung, maka sesuatu yang kembali itu tidak najis bahkan tidak mutanajjis.

Andaikan gumoh itu najis karena cairan yang keluar sudah sampai lambung bayi, namun menurut Ibnu Hajar, kenajisannya dima’fu, dimaafkan atau ditolerir. Artinya, meskipun gumoh bayi itu najis, namun hal itu dimaafkan sehingga tidak perlu disucikan, dan tidak pula menajiskan barang yang lain.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anatut Thalibin berikut :

وَسُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: هَلْ يُعْفَى عَمَّا يُصِيْبُ ثَدْيَ الْمُرْضِعَةِ مِنْ رِيْقِ الرَّضِيْعِ الْمُتَنَجِّسِ بِقَئْ ٍ أَوِ ابْتِلَاعِ نَجَاسَةٍ أَمْ لَا؟ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: وَيُعْفَى عَنْ فَمِ الصَّغِيْرِ وَإِنْ تَحَقَّقَتْ نَجَاسَتُهُ. كَمَا صَرَّحَ بِهِ ابْنُ الصَّلَاحِ فَقَالَ: يُعْفَى عَمَّا اتَّصَلَ بِهِ شَىْئٌ مِنْ أَفْوَاهِ الصِّبْيَانِ مَعَ تَحَقُّقِ نَجَاسَتِهَا.

(Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy) pernah ditanya; Apakah ditolerir atau tidak puting seorang ibu menyusui yang terkena sesuatu dari ludah bayi yang menjadi najis sebab muntahan atau menelan perkara najis? Kemudian beliau menjawab: Ditolerir sesuatu yang keluar dari mulut anak kecil meskipun dapat dipastikan hukum najisnya. Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Shalah yang berkata: Segala sesuatu yang mengenai mulut anak kecil ditolerir meskipun telah jelas hukum najisnya.

Berdasarkan hal tersebut, maka apabila muntahnya anak tersebut terjadi jauh setelah makan, in syaa Allah itu keluar dari lambung yang berarti najis, dan apabila muntah tersebut melekat dilantai atau ubin atau keramik, maka in syaa untuk meberisihkan cukup dengan cara  dilap dengan lap yang basah, sehingga diyakini najisnya hilang

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya

Wallahu a'lam bishshawaab

wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA