Assalamualaikum wr wb
Ustad, Afwan saya bertanya lagi. Karena ini sangat menganggu saya.
Saya merasa tidak nyaman di area dubur. Panas dan lengket karena ada cairan (belakangan ini sering entah karena apa). Posisi nya saya baru selesai shalat syuruq, baru selesai mandi dan ganti celana baru semua.
Lalu saya endus CD. Ada seperti basahan sedikit dan baunya memang tidak sedap namun lama lama bau itu hilang. Entah basah itu bekas mandi atau dari dubur.
Kemudian saya cek maaf dubur. Maaf agak lengket atau lembab di area Dubur dan baunya juga tidak sedap tapi bukan bau seperti buang kotoran. Rasa panas itu saya curiga dari luka akibat digosok.
Apakah najis? Karena saya tidak tau lengket atau lembab itu akibat apa apa. Apakah itu air sedikit keluar dari dubur atau air bekas mandi yg bersentuhan dubur yg luka.
Karena saya Bru mandi selang sejam yg lalu. Akhirnya saya ganti CD karena ragu. Tapi celana panjang saya endus juga ada bau tidak sedap samar samar tapi tidak ada basahan.
1. Apakah perlu mengganti celana juga.. karena saya baru sekali ganti celana.
2. Apakah itu najis ustad....
3. Rasa panas dan lengket yg mendadak terasa itu bolehkah diabaikan atau termasuk najis.
4. Apakah bau an itu najis bila tidak wujud bendanya.
Wa'alaikumussalaam wrwb.
Yang paling utama harus anda perhatikan itu adalah bagaimana anda melawan dan membuang penyakit waswas yang anda derita, kalau tidak akan berpotensi merusak ibadah anda. Karena salah satu senjata iblis untuk merusak manusia adalah penyakit was-was. Penyakit ini dia sematkan di hati hamba Allah untuk menimbulkan keraguan. Dengan metode ini, setan bisa dengan mudah menggiring seorang muslim untuk senantiasa dalam kegelisahan bahkan akhirnya menjauh dari agamanya
Bahkan bisa jadi, tujuannya adalah agar orang itu merasa bosan dan keberatan dalam beragama, kemudian dia tinggalkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :
“Sesungguhnya agama itu mudah, tidaklah seseorang memberat-beratkan dirinya dalam beragama kecuali dia akan terkalahkan.” (HR. Bukhari 39, An-Nasai 5034, dll).
Setelah kita yakin bahwa penyakit was-was adalah godaan iblis, untuk selanjutnya kita perlu berusaha mencari solusi agar bisa terbebas dari masalah ini.
Ada beberapa saran yang disampaikan ulama untuk mengobati penhyakit waswas:
Petama, Tidak peduli
Obat yang paling mujarab untuk menghilangkan was-was adalah sikap tidak peduli. Tidak mengambil pusing setiap keraguan yang muncul.
Ahmad al-Haitami ketika ditanya tentang penyakit was-was, adakah obatnya? Beliau mengatakan yang artinya :
Ada obat yang paling mujarab untuk penyakit ini, yaitu tidak peduli secara keseluruhan. Meskipun dalam dirinya muncul keraguan yang hebat. Karena jika dia tidak perhatikan keraguan ini, maka keraguannya tidak akan menetap dan akan pergi dengan sendiri dalam waktu yang tidak lama. Sebagaimana cara ini pernah dilakukan oleh mereka yang mendapat taufiq untuk lepas dari was-was. Sebaliknya, orang yang memperhatikan keraguan yang muncul dan menuruti bisikan keraguannya, maka dorongan was-was itu akan terus bertambah, sampai menyebabkan dirinya seperti orang gila atau lebih parah dari orang gila. Sebagaimana yang pernah kami lihat pada banyak orang yang mengalami cobaan keraguan ini, sementara dia memperhatikan bisikan was-wasnya dan ajakan setannya (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro, 1:149).
Kalau kemudian anda belum berhasil melakukah langkah yang pertama ini, maka anda haruskan ulang kembali hingga anda meyakininya, dan keraguan yang muncul setelah itu, maka jangan dihiraukan, kareka keraguan itu tidak menimbulkan hukum baru.
Kedua, mengambil sikap kebalikannya
Bentuk tidak mempedulikan perasaan was-was dalam hati adalah dengan mengambil sikap kebalikannya. Misalnya, seorang yang wasa was dengan menghina Allah dan Rasul-NYa, maka segera puji Allah dan Rasulnya, seorang berwudhu, kemudian muncul keraguan seolah ada yang keluar dari dubur. Untuk mengobati was-was ini, keraguan itu tidak perlu dia perhatikan dan dia yakini wudhunya sah dan dia tidak kentut dan tidak batal sedikitpun. Atau orang yang takbiratul ihram, kemudian muncul keraguan tentang niat, maka dia yakini niatnya sudah benar, dan shalatnya sah. Demikian pula kasus orang yang merasa ada yang menetes setelah buang air kecil, ketika hendak shalat. Untuk mengobati penyakit ini, dia yakini bahwa itu bukan air kencing, itu tidak najis, dan wudhu tidak batal. Sehingga dia bisa shalat dengan tenang. Kecuali jika yang terjadi betul-betul meyakinkan, seperti keluar bunyi kentut, atau keluar air kencing dalam jumlah banyak, bukan hanya tetesan, dst. Dalam kondisi ini, anda harus mengulangi.
Ini sebagaimana yang disarankan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits dari Abbad bin Tamim, dari pamannya, bahwa ada seseorang yang pernah mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penyakit was-was yang dia alami. Dia dibayangi seolah-olah mengeluarkan kentut ketika shalat. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :
“Janganlah dia membatalkan shalatnya, sampai dia mendengar suara kentut atau mencium baunya.” (HR. Bukhari 137 dan Muslim 361).
Hadits ini berlaku bagi orang yang mengalami penyakit was-was, mungkin sebagaimana yang juga anda rasakan.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemiudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.