Merasa Tidak Dihargai

Pernikahan & Keluarga, 17 April 2024

Pertanyaan:

Saya sudah menikah selama 13 tahun, beberapa tahun belakangan saya mulai merasa bahwa suami saya tidak menghargai saya dengan cara

1. Sering menyembunyikan sesuatu hal walau pada akhirnya saya tau belakangan dan itu membuat sakit hati saya

2. Lebih mengutamakan teman daripada istri dan anak, dia lebih suka menghabiskan waktu bersama teman teman nya, tapi kalau dirmh lebih suka sibuk dengan HP nya

3. Saya merasa kalau saya bukan prioritas utamanya, karna dia tidak pernah memikirkan perasaan saya, tp lebih mementingkan perasaan orang lain

4. Apapun kesalahan yg dia perbuat dia tidak pernah mau meminta maaf kepada saya, kebalikannya kalau saya salah sekecil apapun saya selalu meminta maaf

5. Tidak pernah sekalipun dia memuji saya

6. Setiap kali ribut dia selalu mengeluarkan kata kata yang merendahkan saya

Jujur hati saya sakit sekali, saya merasa tidak berharga dan tidak dihargai oleh suami saya, saya ingin pernikahan saya langgeng tp saya selalu mrasa sakit hati, apa yg harus saya lakukan? Sedangkan kalau bicara dari hati ke hati dengan suami saya tidak pernah ada jalan keluarnya. Trimakasih



-- Galuh (Yogyakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam awrahmatullahi wabaraktuhu.

Usia pernikahan anda sudah 13 tahun. Sebuah usia pernikah yang menginjak matang. Sudah waktunya disegarkan kembali. Bunga-bunga cinta mulai layu. Kata-kata manis mulai hilang. Sikap lemah lembut mulai berubah.

Kenapa hal itu bisa terjadi, karena perubahan suasana keluarga yang tidak lagi sama. Pada usia pernikahan 10 tahun keatas seperti itu. Suami mulai lebih banyak sibuk dengan pekerjaan dan karir serta teman. Karena teman dipandang akan menjadi pintu masuk ke kesuksesan yang sedang dia gapai. Dengan banyak teman, akan semakin banyak jaringan. Dan teman terkadang menjadi “pelarian” dari rumah yang dianggap tidak kondusif. Dengan begitu keluarga terlupakan dan terabaikan karena lebih focus keluar rumah. Ketika pulang ke rumah dengan membawa sejuta masalah di luar, yang dia butuhkan adalah santai dan tidak ingin sibuk dengan urusan rumah.

Pada sisi yang lain istri yang di rumah telah disibukkan urusan anak dan kesibukan lain yang mulai menuntut perhatian lebih besar pula, sehingga istri dalam kondisi seperti ini mulai membutuhkan orang disekitarnya untuk menjadi penolongnya. Tapi dia dapati orang  disekitarnya yaitu suami. Juga terlihat nggak peduli. Dia sibuk dengan urusannya sendiri. Maka istri kecewa.

Disinilah dibutuhka kedewasaan berfikir dan bersikap dari kedua belah fihak, suami dan istri. Karena siklus keluarga seperti ini adalah wajar. Badai ini pasti datang, tapi dia akan pergi pada waktunya. Sabar dan bijaknsana dalam mensikapi keadaan adalah kunci menghadapi keadaan diatas. Tidak terpancing emosi. Karena itu ada beberapa saran yang bisa kami sampakan:

  1. Segarkan suasana keluarga dan hubungan suami istri dengan mengadakan kegiatan keluarg bareng, walaupun hanya sekedar jalan-jalan dan makan-makan yang ringan. Suasana rumah yang mulai kelam sesekali perlu ditinggal, untuk mendapatkan matahari dan udara segar dari lingkungna social sekitar. Suasana bisa mencair karena bertemu dengan suasana yang berbeda dengan suasana di rumah.
  2. Jangan tegang mensikapi sikap suami yang seperti anda ceritakan diatas. Jadikan peristiwa harian itu sesuatu yang wajar. Susana keluarga seperti itu akan dialami oleh semua keluarga. Anda tidak sendirian. Kaena sikap santai akan meringankan keadaan. Jangan terlalu ideal dalam harapan dan tuntutan kepada suami. Sikapilah kekurangannya adalah peluang untuk anda isi sehingga menjadi kebaikan bagi anda.Hindari sikap serius. Sikapilah santai.

Demikian yang bisa disampaikan. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc