Antara Ortu Dan Suami


Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb..

Pernikahan kami sudah berjalan 4 tahun, dikarunia putri yg baru beranjak 3 tahun. Selama menikah kami masih menumpang dirumah ortu saya, dan suami saya mengenai tempat kerja dicarikan oleh ayah saya. Saya pun setiap hari kerja, dengan status yg sudah diakui oleh pemerintah sehingga dari penghasilan lebih besar saya, namun saya tidak pernah mempermasalahkan mengenai penghasilan suami saya, Alhamdulillah cukup. 

Karakter suami saya sangat tidak sreuk dengan keluarga saya semakin kesini saya semakin banyak tekanan obrolan" yang ibu saya berikan tentang sikap suami saya yg pelit, malas, dan tidak peka terhadap pekerjaan membantu ayah saya,dll.

Tekanan dari ortu pun setiap hari selalu ada membuat saya sesak stress, dan berpengaruh terhadap mood seksualitas saya (malas untuk hb). Setiap didekati suami selalu menolak karena dihati berat untuk melayani. Terlebih kami tidur pisah kamar karena anak.

Kalo untuk dikasih pengertian saya sudah jelaskan ke suami saya, tapi mengenai tekanan dari ortu yg selalu menceritakan sikap jeleknya suami saya, saya tidak ceritakan kepada nya. Bagaimana solusinya mengenai permasalahan saya?

Terimakasih sebelumnya 



-- Retno (Bandung)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Menanggapi masalah yang sedang anda hadapi,dapat kami berikan saran sebagai berikut:

  1. Sebaiknya anda dan suami/keluarga tidak tinggal serumah dengan orantua anda. Ada banyak manfaat yang dapat anda dan suami dapatkan dengan tinggal terpisah dengan orantua,antara lain:
    1. Anda dan suami terhindar dari bayang-bayang Anda dan suami memiliki kebebasan dalam mengelola keluarga dan mengelola finansial yang anda miliki. Tidak merasa sungkan dan tidak enak jika melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dan selera orangtua.
    2. Dengan hidup terpisah dengan orangtua, Anda dan suami dipaksa mandiri dan tidak bergantung dengan orangtua. Dapat menikmati segala proses kesulitan menuju kemudahan dan kebahagiaan.
    3. Suami dan anda tidak merasa diintervensi dalam menentukan sesuatu yang anda dan suami nilai baik. Intervensi orangtua sulit dihindari jika masih serumah dengan mereka,karena orangtua selalu melihat bahwa anak selalu tampak kecil dan perlu dibantu. Sementara,anak merasa bahwa mereka telah dewasa dan tidak ingin diintervensi. Dengan begitu akan menimbulkan konflik.
  2. Jika orangtua anda sering menceritakan kekurangan suami kepada anda, suami anda pasti juga merasakan hal itu. Ketika seorang laki-laki di anggap dan dinilai tidak mampu, maka dia semakin tidak berdaya dan tidak semangat bekerja. Laki-laki itu perlu dukungan dan motivasi. Perlu dukungan seorang istri yang lebih mampu melihat kelebihannya daripada kekurangannya. Dukungan istri akan mejadi penawar serangan negative dari orang lain. Karena itu, dukunglah suami anda dengan segala macam cara. Dalam kondisi suami sedang lelah secara mental, maka dukungan istri sangat dibutuhkan.
  3. Penuhilah kebutuhan biologis suami anda. Hubungan suami istri bagi seorang laki-laki adalah kebutuhan mendasar yang akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi kesehatan raga dan jiwa. Diantara manfaat berhubungan badan bagi seorang suami adalah munculnya hormon bahagia, menghilangkan stress, menghasilkan kelekatan suami istri dan lain sebagainya. Jika suami mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya, maka sifat kelakiannya akan meningkat. Akan meningkat rasa tanggung jawabnya. Akan meningkat semangatnya. Akan meningkat harga dirinya dan lain sebagainya.
  4. Pisahkan tempat tidur anak dengan tempat tidur orangtuanya. Jangan sampai keberadaan anak menjadi kendala dan alasan untuk tidak melayani kebutuhan biologis suami. Dan semustinya anak tidak lagi sekamar dengan orangtua. Perlu dilatih agar bisa tidur sendiri di kamar yang terpisah dengan orangtuanya.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc