Suami Tidak Jujur

Pernikahan & Keluarga, 31 Januari 2025

Pertanyaan:

Assalamuallaikum.Wr.Wb. 

Saya adalah ibu dari 2 orang anak. Pernikahan kami sudah berjalan hampir 4 tahun. Kebetulan saya menikah dengan seorang duda (1 anak) yang istrinya meninggal. Sebelum kami menikah saya meminta komitmen bahwa setelah menikah nanti saya tidak ingin dia membanding-bandingkan saya dengan istrinya yang dahulu, saya juga memintanya untuk tidak mengenang lagi istrinya melalui media sosial (misalnya saja memasang foto atau membuat kata-kata manis tentang istrinya) karena pada saat masih pacaran dia sering melakukan itu, apalagi pada saat kami ada masalah, itu sering kali dilakukan. Tapi nyatanya, itu masih saja dilakukannya walaupun dengan sembunyi-sembunyi, karena kebetulan suami kerja diluar kota dan kami hanya beberapa hari sekali bertemu. Sehingga saya bisa mengetahui itu ketika membaca pesan atau komentar- komentar di hpnya. Dan yang membuat saya semakin kecewa, pada saat tanggal kelahiran istrinya, dia memberi ucapan dengan kata-kata romantis serta menyematkan fotonya, itupun tanpa sepengetahuan saya. Namun ketika saya berulang tahun, saya berharap dia juga melakukan hal yang sama, tapi nyatanya tidak.

Permasalahan yang lain adalah suami saya orang yang sangat keras, bahkan di awal pernikahan dia sempat melakukan beberapa kali kdrt, namun alhamdulillah sekarang sudah tidak pernah. Walaupun begitu, ucapan dan umpatan kasar hampir setiap hari saya rasakan, itupun juga dia lakukan bahkan ketika ada orangtua saya. Dia juga tidak segan membanting barang saat marah dan itu dilakukan didepan anak kami yang masih kecil- kecil.

Hal lain yang ternyata juga dia lakukan adalah dia sering chat dan menggoda perempuan lain, dia juga tidak segan memuji muji perempuan lain didepan saya. 

Sebagai seorang istri yang mungkin 2 atau 3 hari sekali bertemu dengan suami harusnya saya merasa senang, tapi justru ketakutan dan kekhawatiran yang saya rasakan. Karena begitu seringnya dia marah dan mengucapkan kata - kata kasar. 

Selama ini saya hanya diam dan memendam semuanya. Karena ketika saya ungkapkanpun dia justru berbalik mencari-cari kesalahan saya. 

Apa yang harus saya lakukan dengan rumah tangga saya? Apa yang harus saya perbaiki sebagai seorang istri? Jika hal-hal tersebut masih selalu saja terjadi apakah saya masih bisa bertahan?



-- Vivi (Surabaya)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Perempuan yang menikah dengan suami dengan laki-laki/suami yang ditinggal mati oleh istrinya harus siap dengan rasa cemburu, karena suaminya belum bisa melupakan istrinya pertamanya. Seorang suami yang berpisah dengan istrinya karena kematian berbeda dengan perpisahan karena perceraian. Perpisahan karena kematian menyisakan kesan baik, karena perpisahan itu sebenarnya tidak dia kehendaki. Sehingga melupakan mantan tidak mudah dia lakukan.Sementara perpisahan karena perceraian menyisakan luka dan benci, karena perpisahan itu sama-sama diinginkan. Sehingga melupakan mantan itu lebih mudah.

Ibunda A’isyah ra pernah cemburu kepada sayyidah Khadijah walaupun beliau sudah wafat, hal itu dikarenakan rasulullah masih menyebut-nyebut kebaikan sayyidah Khadijah. Jika anda cemburu karena suami anda belum bisa melupakan istrinya-dan kemungkinan hal ini akan berlangsung lama-maka rasa itu suatu kewajaran yang dialami oleh setiap perempuan seperti anda.

Yang bisa anda lakukan untuk meringankan perasaan cemburu itu adalah berdamai dengan keadaan. Terimalah keadaan ini tanpa anda harus mengeluh. Biarkan waktu yang akan mengubah segalanya menjadi lebih baik.

Memaksakan suami untuk mengubah sikapnya tidaklah perkara mudah. Lebih baik anda mengubah sikap anda kepada suami. Biarkan dia larut dengan masa lalunya. Selama dia tidak berselingkuh dengan wanita lain dan tetap kembali kepada anda,cukuplah itu menjadi alasan untuk anda menerima suami apa adanya.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc