Ujian Pernikahan

Pernikahan & Keluarga, 29 Agustus 2025

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad saya mau bertanya, saya menikah sudah 7 tahun tapi berkali kali suami saya selingkuh saya selalu memaafkan karna saya juga intropeksi diri mungkin itu semua terjadi karena ada yg salah dengan diri saya , saya sudah menegur mulai dengan cara yg lembut sampai kasar tapi ketika saya menegur dia marah dan menyalahkan saya dan mengecam saya sebagai istri yg tidak baik egois dan merasa paling tersakiti padahal saya juga sering menyakiti dia kata nya, jujur saya cuma manusia biasa yg mungkin ketika saya melakukan salah saya tidak sadar sudah menyakiti hati orang lain, suami saya tidak pernah membicarakan itu dengan baik ngobrol berdua dan mencari jalan keluar tapi dia selalu melampiaskan mencari wanita lain demi menghilangkan penatnya masalah yg dia hadapi, saya pernah minta untuk dia memberi keputusan mau lanjut dengan saya atau dengan selingkuhan nya tapi jawabannya seolah tidak mah melepaskan keduanya dia mau nyaa saya diam dan percaya sama dia dan ketika dia sudah capek dia akan kembali lagi sama saya, bagaimana baiknya saya menyikapi ujian pernikahan yg seperti ini ustad? 



-- Ros (Serang)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Selingkuh adalah bentuk pengkhianatan terhadap kesucian pernikahan. Ketika seseorang memilih untuk menikah, berarti ia berkomitmen hanya untuk satu pasangan, menutup hatinya dari orang lain, dan menjaga kesetiaan. Karena itu, perselingkuhan adalah perbuatan yang dilarang dalam agama, bahkan termasuk perbuatan dosa yang merusak rumah tangga.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ [17]: 32)

Perselingkuhan tidak boleh dijadikan alasan untuk lari dari masalah rumah tangga. Justru sikap lari seperti itu akan memperburuk keadaan dan tidak menyelesaikan persoalan.

Jika seorang suami berulang kali berselingkuh, hal itu menunjukkan bahwa ia tidak memiliki komitmen kuat dalam berkeluarga. Ia lebih mementingkan kesenangan diri sendiri, mengabaikan perasaan istrinya, dan bersikap egois. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Dalam kondisi seperti ini, seorang istri tentu merasa sangat terluka. Jika anda masih ingin mempertahankan rumah tangga dan menerima suami apa adanya, itu adalah pilihan yang bisa berpahala jika diniatkan karena Allah, sambil terus berdoa dan berharap agar Allah membukakan pintu hidayah bagi suami Anda. Namun, jangan biarkan diri Anda terjebak dalam sikap pasrah tanpa usaha. Anda berhak menasihati, mengingatkan, bahkan mengambil langkah-langkah tegas bila diperlukan demi menjaga kehormatan diri, keselamatan hati, dan masa depan keluarga.

Islam juga memberikan jalan keluar berupa rujuk, nasihat keluarga, mediasi, atau bahkan perceraian (thalak/khulu’) jika memang sudah tidak ada jalan lain. Allah tidak menghendaki seorang hamba hidup dalam penindasan batin yang berkepanjangan. Allah ﷻ berfirman:

وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا

Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan mencukupkan masing-masing (dari mereka) dari limpahan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’ [4]: 130)

Karena itu, kuatkan doa, perbanyak istighfar, mohon petunjuk Allah dalam setiap keputusan. Libatkan keluarga atau pihak yang dipercaya jika masalah semakin berat, agar Anda tidak menanggungnya sendirian.

Semoga Allah memberikan Anda kekuatan, keteguhan hati, dan jalan terbaik dalam menghadapi ujian ini. (as)



-- Amin Syukroni, Lc