Pisah Atau Pertahankan

Pernikahan & Keluarga, 8 Oktober 2025

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum ustadz,,

Saya seorang istri yang sudah menjalani pernikahan selama 17 tahun. 2 tahun belakangan ini saya mengetahui bahwa suami saya suka berhutang yang saya tidak tahu kegunaannya. Saya sudah bolak balik memaafkan  dan membantunya tapi dibelakang saya masalah itu sering datang kembali. Selama ini tidak ada kejujuran dalam perihal keuangan. Saya tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan apapun tapi ketika waktunya tagihan datang saya langsung terkena imbasnya. Saya sudah mencoba untuk bertahan karena ada 2 anak yang saya pikirkan. Mental saya sudah hancur karena sering dibohongi. Saya ingin berpisah tetapi masih memikirkan nasib anak-anak kedepannya dengan ketakutan mereka menjadi anak broken home tapi disisi lain saya sudah sangat lelah dengan situasi ini. Tidak ada komunikasi, nafkah untuk kebutuhan pribadi saya tidak ada, hanya uang belanja sekedarnya karena gajinya tiap bulan habis untuk membayar hutang tersebut. Mohon pencerahan nya keputusan apa yang harus saya ambil. Terimakasih 



-- Nur Azizah (Bekasi )

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Menghadapi suami yang sering berhutang, tidak jujur, dan tidak terbuka dalam urusan keuangan sehingga berdampak pada istri dan anak-anak memang bukan hal yang mudah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencari jalan keluarnya, antara lain:

  1. Mencari tahu penyebab perubahan sikap suami.
    Jika sebelumnya suami tidak suka berhutang namun dalam dua tahun terakhir sering melakukannya, maka perlu dicari tahu apa penyebabnya. Mengetahui sebab akan memudahkan dalam mencari solusi.
    Apakah karena kebutuhan keluarga meningkat sementara penghasilan tetap? Apakah suami terjerat judi online atau kebiasaan buruk lainnya? Ataukah karena ada pihak lain (keluarga besar atau orang lain) yang juga harus ia tanggung nafkahnya?
    Dengan mengetahui akar masalahnya, langkah perbaikan akan lebih terarah.
  2. Berbicara secara terbuka dan jujur.
    Karena masalah hutang suami berdampak langsung pada keluarga, maka sebaiknya dibicarakan secara terbuka dan dengan hati yang tenang. Tujuannya agar muncul sikap saling memahami dan saling mengetahui keadaan yang sebenarnya.
    Jika semua cara untuk mengajak suami jujur dan terbuka tidak membuahkan hasil, maka segala konsekuensi dari hutang tersebut menjadi tanggung jawabnya sendiri. Dalam hal ini, istri tidak wajib ikut menanggung dan tidak harus terus-menerus memaafkan kesalahannya jika ia terus mengulanginya.
  3. Memberikan batas waktu untuk perubahan.
    Istri berhak memberikan batas waktu yang wajar kepada suami agar ia memperbaiki sikapnya. Namun, jika setelah diberi kesempatan yang cukup suami tetap tidak mau berubah, maka istri boleh mempertimbangkan untuk mengajukan perceraian.
    Sebab, tidak ada kebaikan dalam rumah tangga yang sudah kehilangan kejujuran, tanggung jawab, dan keharmonisan. Perceraian dalam kondisi seperti ini bisa menjadi pilihan terakhir yang lebih maslahat.
  4. Memohon petunjuk Allah dengan shalat istikharah.
    Jika istri masih ragu antara bertahan atau berpisah, maka serahkan keputusan itu kepada Allah melalui shalat istikharah. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Bisa jadi apa yang terasa berat di awal justru mengandung kebaikan di masa depan.

Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik, meneguhkan hati, dan menjaga keluarga dari hal-hal yang tidak diridhai-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
(as)



-- Amin Syukroni, Lc