Suami Silent Treatment

Pernikahan & Keluarga, 23 Oktober 2025

Pertanyaan:

assalamu'alaikum pak ustadz/ustadzah, maaf saya ingin bertanya dan saya butuh pencerahannya, saya adalah seorang istri dan ibu pekerja.usia pernikahan kami sudah 9 tahunan. alhamdulillah kami dikaruniai  1 anak laki2. 

selama kami menikah, banyak sekali ujian yang telah kami lalui. salah satunya yaitu ekonomi kami yg habis habisan,hutang dimana mana. dan itu salah satunya alasan saya bekerja juga. 

maaf ustadz, selama usia pernikahan kami ini. saya tidak pernah sama sekali merasakan di imami sholat oleh suami, bahkan tidak pernah sholat dirumah. setiap saya sruh suami untuk sholat selalu bersikap ksel.dan pada akhirnya beliau berkata bahwa semakin sholat ujian semakin berat. kami pekerja, dan setiap. pulang kerja suami selalu sibuk dengan hp nya. saya dan suami berbicara pun seperlunya. bahkan hampir tidak omongan jika tidak ada yg mau ditanyakan. maaf ustadz, semakin hari demi hari hati ini lelah rasanya.saya audad mati rasa dengan suami. saya bertahan demi anak.aja yg hatus saua lakukan ustad. apakah perpisahan jalan terbaiknya? 



-- Nhai (Jakarta)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Setiap pasangan suami dan istri tentu berharap mendapatkan kebaikan dan perlakuan terbaik dari pasangannya. Seorang istri berharap mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari suaminya, sedangkan seorang suami menginginkan sentuhan lembut dan kehangatan dari istrinya. Semua berharap rumah tangganya menjadi keluarga yang dipenuhi kasih sayang, cinta, dan ketenteraman hidup.

Namun, terkadang harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Ada istri yang mendapati suaminya belum mampu melindungi keluarga dari ancaman dosa dan neraka, belum bisa menuntun dalam ibadah dan takwa, serta belum memberikan perhatian yang cukup kepada istri dan anak-anaknya. Di sisi lain, terkadang seorang istri pun belum mampu menjadi istri yang ideal — yang sabar menghadapi kekurangan suaminya.

Dalam kondisi seperti ini, perlu ada upaya perbaikan dari kedua belah pihak. Suami hendaknya menyadari kekurangannya dan berusaha memperbaikinya, sementara istri juga melakukan hal yang sama. Keduanya perlu berfokus pada menunaikan kewajiban masing-masing, bukan sekadar menuntut hak. Sebab, jika masing-masing fokus menunaikan kewajiban, maka secara otomatis hak pun akan terpenuhi.

Untuk mewujudkan perbaikan bersama, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membangun komunikasi yang baik dan jujur. Pilih waktu dan tempat yang tenang untuk berdialog, agar suasana hati lebih siap menerima. Dalam berkomunikasi, hindari sikap saling menyalahkan atau mencari-cari kesalahan pasangan. Sebaliknya, berusahalah melihat dan mengingat kebaikan pasangan, sekecil apa pun itu.

Namun, jika segala upaya kebaikan telah dilakukan tetapi hanya bertepuk sebelah tangan — tidak mendapat respon yang semestinya — maka saat itu bisa dipertimbangkan dua pilihan: bersabar dengan keadaan sambil terus berdoa agar Allah memberi petunjuk, atau mengakhiri pernikahan secara baik-baik bila memang itu menjadi jalan yang lebih maslahat.

Allah Ta‘ala berfirman: “Jika keduanya berpisah, maka Allah akan mencukupkan masing-masing dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa: 130)

Semoga Allah memudahkan Ibu menemukan ketenangan, memperbaiki keadaan rumah tangga, atau memberi pengganti yang lebih baik jika itu yang terbaik menurut-Nya.

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam bish-shawab.
(as)



-- Amin Syukroni, Lc